Dilematisasi Bayi Tabung

Memiliki momongan merupakan anugerah yang memang sangat luar biasa. Bisa melanjutkan eksistensi kehidupan seseorang melalui keturunan mereka. Namun tak sedikit juga manusia yang tidak bisa menyempurnakan kehidupan mereka dengan tidak bisa mendapatkan keturunan. Dengan alasan itu, kemudian manusia berpikir keras agar tetap bisa menghadirkan bayi mungil di  Bayi tabung adalah salah satu teknik pembuahan in vitro (in vitro fertilisation), yaitu suatu teknik pembuahan dimana sel telur (ovum) dibuahi di luar tubuh perempuan. Hmm, bagaimana bisa? Jadi begini, prosesnya diawali dengan pengambilan sel telur seorang perempuan, kemudian sel telur tadi akan dibuahi oleh sel sperma seorang laki-laki yang telah dipersiapkan sebelumnya, seperti yang dikatakan sebelumnya, proses pembuahan ini terjadi diluar tubuh manusia. Kemudian hasil dari pembuahan tadi akan “dipelihara” beberapa lama sampai terbentuk embrio (bakal janin), dan kemudian si-embrio tadi akan ditransfer kembali ke dalam rahim perempuan tersebut. Seterusnya, embrio tadi akan berkembang dalanm rahim sang perempuan sebagaimana perempuan hamil normal lainnya.

Untuk menghindari penyalahgunaan teknik bayi tabung ini, maka sudah sepatutnya pemerintah mengeluarkan undang-undang mengenai bayi tabung ini. Di indonesia sendiri ada beberapa aturan perundang-undangan yang mengatur mengenai bayi tabung ini. Pasal  127 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2009 misalnya, dalam pasal ini diatur tentang upaya kehamilan yang dilakukan di luar cara alamiah, yakni hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami isteri yang sah dengan ketentuan sebagai berikut:

a.  Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami isteri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim isteri dari mana ovum berasal;

b.  Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu;

c.  Pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu

Namun dalam islam masih ada dilematisasi yang berkembang.Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya menyatakan bahwa bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami-istri yang sah hukumnya mubah (boleh). Sebab, ini termasuk ikhtiar yang berdasarkan kaidah-kaidah agama.

Namun, para ulama melarang penggunaan teknologi bayi tabung dari pasangan suami-istri yang dititipkan di rahim perempuan lain. “Itu hukumnya haram,” papar MUI dalam fatwanya. Apa pasal? Para ulama menegaskan, di kemudian hari hal itu akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitannya dengan warisan.
Para ulama MUI dalam fatwanya juga memutuskan, bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia hukumnya haram.

referensi :http://www.republika.co.id

Posted in Uncategorized | Leave a comment

” Sabar Narima ” : Manifestasi Kebahagiaan Hidup Bangsa Indonesia

Sontak, itulah yang mungkin dirasakan saat kita melihat hasil dari perhitungan the New Economics Foundation. Sebuah survey mengenai tingkat kebahagiaan hidup rakyat dalam sebuah negara yang kemudian dibuat sebuah pemeringkatan. Survey ini bukan hanya berdasarkan pada GDP (Gross Domestic Products) atau yang dikenal dengan Produksi Total Dalam Negeri dan HDI (Human Development Index) yang berdasarkan pada kekayaan material atau kekayaan, namun tingkat kesehatan dan kebahagiaan rakyat dalam sebuah negara juga diperhatikan. Dalam survey tersebut disebutkan bahwa Indonesia berada di urutan 16 dari 143 negara di dunia. Suatu hal yang patut dibanggakan bagi bangsa Indonesia ditengah kegalauan perekonomian dan carut marut perpolitikan negeri ini. Indonesia berada di atas jauh dibandingkan negara adidaya dan adikuasa USA yang bertengger diperingkat 114. Negara tetangga kita, Malaysia juga masih berada di peringkat 33 sedangkan Thailand masih berada di peringkat 41.

Tentu melihat pemeringkatan Happy Planet Index ini kita akan sedikit tercengang. Indonesia yang seperti kita ketahui dengan segala kompleksitas permasalahan yang ada mampu meraih posisi yang cukup aman (20 besar) dalam konteks negara dengan rakyat ter-bahagia. Permasalahan social perekenomian yang kian lama seolah menggigit bangsa Indonesia. Belum lagi ditambah dengan carut marutnya kondisi perpolitikan dan ranah peradilan dalam negara ini. Namun ditengah segala masalah itu kita bias menghadapi dengan senyum, seperti lagu dalam Dewa 19.

Hadapi Dengan Senyum – Dewa

Hadapi dengan senyuman
Semua yang terjadi biar terjadi
Hadapi dengan tenang jiwa
Semua kan baik-baik saja
Bila ketetapan Tuhan
Sudah ditetapkan, tetaplah sudah
Tak ada yang bisa merubah
Dan takkan bisa berubah
Relakanlah saja ini
Bahwa semua yang terbaik
Terbaik untuk kita semua
Menyerahlah untuk menang

Bangsa Indonesia memahami betul apa itu arti kesabaran dalam menghadapi sebuah ujian. Ujian dan permasalahan hidup dan bangsa ini, dihadapi dengan segala ketenangan jiwa. Inilah Filosofi dari “Sabar Narima”. Sebuah prinsip hidup dengan mengedepankan qonaah, menerima segala yang telah ditetapkan dengan hati bahagia. Namun perlu diingat, menerima dalam konteks ini bukan berarti pasrah dengan segala yang ada. Menerima dalam konteks ini adalah langkah kedua setelah kita berusaha dan berdoa dengan seoptimal mungkin. Setelah itu kita meyakini ini sebagai hasil yang memang harus kita terima. Sikap inilah yang menyebabkan Bangsa Indonesia tidak terlalu “ambisius” dan “sepaneng” dalam menghadapi masalah. Karena mereka  yakin setiap permasalahan pasti ada solusinya. Setiap virus pasti ada antivirusnya dan setiap penyakit pasti ada obatnya. Inilah esensi dari ” Innama`al `usri yusro” (Q.S. Al Insyirah).

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Memoar Sri Sultan HB IX Muda : Plain Living, High Thinking

Idealisme terbungkam oleh Pragmatisme.

Sebuah pemantik awal yang memang pantas kita sematkan pada kondisi generasi muda Indonesia saat ini. Generasi muda saat ini seolah-olah mati aksi dan kontribusi terhadap bangsanya.  Entah karena tersibukkan oleh segala kegalauan asmaranya, tersibukkan oleh ambisi akademis, atau hanya sibuk dengan kepentingan-kepentingan pribadi yang terkungkung dalam “egoisme” pribadi atau kelompoknya semata. Hal inilah kemudian memunculkan pandangan dan sikap apatisme terhadap bangsanya sendiri. Idealisme yang dulu ditunjukkan para pemuda-pemuda founding father Maha Karya “Sumpah Pemuda” seolah semakin lama terkikis oleh pragmatisme kehidupan generasi muda saat ini yang hanya ingin enaknya sendiri.

Berangkat dari permasalahan itu sudah saatnya kita mencari sosok yang bisa menginspirasi dan men-trigger lagi semangat kita mengabdi kepada bangsa ini. Di tengah galaunya kondisi pemuda di negeri ini, ada seorang tokoh yang bisa menjadi teladan untuk kita semua. Beliau adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Raja Yogyakarta ini memiliki jiwa nasionalisme yang tidak diragukan lagi. Jiwa nasionalisme tersebut berimplikasi pada semangat dan kekuatan Beliau untuk terus membangun dan mengabdi untuk Negeri ini.

Dalam sosok Sri Sultan Hamengku Buwana terdapat beberapa karakter yang layak kita teladani. Konsep ” Plain Living, High Thinking” ala Sri Sultan Hamengku Buwaana IX sudah saatnya dipelajari, dihayati, dan dijalankan oleh generasi muda saat ini. Plain Living atau hidup sederhana pada pribadi Sri Sultan HB IX menjadi keteladanan tersendiri untuk kita semua. Kita pasti sudah mengetahui Sri Sultan HB IX merupakan tokoh Indonesia bahkan Dunia. Namun dengan segala kapasitas Beliau satu hal yang bisa kita ambil pelajaran adalah Beliau termasuk Tokoh Nasional bahkan Dunia yang sangat bersahaja. Seperti yang diceritakan oleh Frans Seda, sahabat beliau, ketika berada di luar negeri saat Almarhum (Sri Sultan HBIX) jalan-jalan mengelilingi hotel di musim dingin tanpa over coat. Sang Raja memakai lembaran koran untuk melapisi dadanya. Kemudian pasa saat sidang umum MPR 1978, menjelang terpilihnya menjadi Wakil Presiden, wartawan menyingkap bahwasannya beliau memakai karet untuk mengikat kaos kakinnya yang longgar. Sebuah makna mendalam tersirat dalam peristiwa ini. Sri Sultan HB IX dengan segala kekuasaan dan tahtanya beliau tidak mau hidup hedon seperti pemimpin pada umumnya saat ini. Hidupnya mengalir dalam kesahajaan tanpa alih-alih ingin dipuji dan sebagainya.

Kemudian pelajaran yang kedua adalah High Thinking, berpikir adiluhung. Dalam benak Sri Sultan HB IX selalu ada pemikiran-pemikiran luar biasa yang ini solutif untuk pemecahan masalah kebangsaan dan lain sebagainya. Hal ini menginisiasikan semangat kepahlawanan, nasionalisme, dan kebangsaannya selalu tersirat dalam setiap tindakan Beliau. Kerangka berpikir yang luas berwawasan dan adiluhung ini teriringi dalam kesahajaan budi beliau. Seperti dalam ilmu padi, semakin tinggi keilmuan seseorang, maka ia semakin menunduk. Pemikiran beliau yang mungkin bisa kita ambil hikmah adalah dikala kondisi Indonesia sedang genting pada saat kembalinya Belanda dengan kedok NICA membonceng kehadiran sekutu di Jakarta, Beliau mengundang Soekarno dan Hatta sebagai presiden dan wakil dikala itu, untuk memindahkan Ibu kota ke Yogyakarta. Ini merupakan taktik dan solusi yang luar biasa disaat eksistensi negeri ini yang terkoyak. Memang harus dilakukan dan hal ini terbukti tepat untuk tetap menjaga kedaulatan negara kita. Inilah penggambaran sosok Sang Raja yang patut kita teladani untuk menjadi pionir dan problem solver dalam permasalahan bangsa saat ini.

Namun  kondisi generasi muda saat ini justru berkebalikan dengan sosok Sri Sultan HB IX ini, generasi muda bukan lagi ” Hidup Sederhana, Berpikir Adiluhung”. Akan tetapi justru ” Hidup Mewah, Berpikir Sederhana”. Inilah yang mulai saat ini harus mulai diubah. Bangsa ini tidak terus-menerus tergilakan dan terninabobokkan oleh manisnya sejarah. Namun bangsa ini membutuhkan generasi dimasanya sendiri (masa sekarang) untuk terus mengabdi dan berkontribusi secara nyata. Akhirnya, kami mengajak kepada pribadi sendiri dan seluruh kaum muda di Indonesia, mari kita lebih peduli lagi terhadap carut-marut bangsa ini. Peduli dengan sikap dan tindakan sesuai dengan bidang kita. Peduli yang membuat kita beraksi bukan hanya diam. Beraksi untuk bersama-sama membangun negeri ini, Negeri Indonesia, sesuai yang dicita-citakan para pendahulu kita.

Phisca Aditya Rosyady – Mahasiswa Ilmu Komputer dan Elektronika UGM

* Artikel ini diikutsertakan dalam Kontes Blog UGM 2012

referensi : www.kerajaannusantara.com

Posted in Lomba Blog | 87 Comments

Eksistensi Semangat Kartini : ” Habis Terbit Terang, Jangan Kembali Gelap”

“Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya.”

~ Surat Kartini kepada Nyonya Van Kool ~

Pada suatu ketika, Kartini pernah diberi kado Kitab Al Quran berbahasa Jawa oleh Kyai Saleh Darat pada masa remajanya. Continue reading

Posted in Berita | Leave a comment

Menggadaikan Moralitas (hanya) untuk Konten Bajakan

Hargailah karya orang lain, niscaya orang lain akan menghargai karya kita

Globalisasi yang kian rancak dengan ditandai semakin merebaknya penggunaan internet di kalangan masyarakat luas.  Internet untuk rakyat, sebuah jargon dari salah satu produk yang sering kita jumpai di media iklan saat ini. Memang jargon itulah yang pantas untuk menggambarkan kondisi pemanfaatan internet saat ini. Internet saat ini sudah mulai memasyarakat, membidik berbagai usia dan generasi. Mulai dari anak kecil, remaja, orang tua, bahkan para lansia pun sudah dekat dengan internet. Hanya sekadar berselancar di jejaring sosial atau sudah merambah ke aktivitas bisnis secara online dan lain sebagainnya.

Kondisi merebaknya penggunaan internet dikalangan masyarakat akan memberikan manfaat yang sangat besar. Salah satunya, informasi dan pengetahuan yang mungkin selama ini mustahil untuk dijangkau dengan hadirnya internet maka akan membantu semua itu. Namun terlepas dari berbagai  kemanfaatan itu, ada beberapa kelemahan juga yang dihadirkan. Dengan media internet, kita akan bisa mengakses banyak situs web yang menyediakan software bajakan secara gratis. Setiap orang yang membutuhkan software dan ingin men-download-nya bisa dengan mudah mendapatkan software itu kapanpun dan dimanapun berada.

“Berdasarkan hasil riset pembajakan software International Data Corporations (IDC) tahun 2010,  Indonesia menduduki peringkat ke 11 sebagai negara yang paling besar pembajakan software.  Dengan prosentase pembajakan mencapai 87 persen, meningkat dari tahun 2009 yang mencapai 86 persen, merupakan parameter bahwa masih banyak pengguna software yang belum sadar. “ (dilansir VIVAnews.com)

Kondisi di tahun 2011 tak jauh berbeda dengan kondisi 2 tahun sebelumnya. Business Software Alliance (BSA) kembali merilis laporan survey perilaku pengguna dan sikap terhadap pembajakan perangkat lunak Hak Kekayaaan Intelektual (HKI).  Survey menunjukkan dari 32 negara, Indonesia menempati urutan ke 7 sebagai negara dengan pengguna perangkat lunak illegal. Tabel dibawah ini adalah 15 besar negara “Pembajak”

15 negara utama yang paling banyak melakukan pembajakan di seluruh dunia

sumber data : (http://teknologi.vivanews.com)

Sebuah kondisi yang cukup memalukan negara kita menempati posisi ke tujuh dunia bukan karena prestasi yang dibanggakan namun karena tindakan yang kurang terpuji.  Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat tentang Hak Cipta dan kondisi perekonomian mayoritas penduduk di Indonesia  yang menyebabkan enggan atau tidak memungkinkan membeli software yang berlisensi.  Berikut ada contoh realita yang ada sebagai contoh, alangkah mahalnya untuk membeli sebuah komputer dengan berbagai kelengkapannya:

Monitor + CPU                    :       1.500.000

Windows XP                        :       1.000.000

MS Office 2010                   :       2.799.900

Adobe Acrobat Pro              :       7.990.000

Winzip                                  :          129.000

MYOB                                  :       5.500.000

Total                                             Rp. 18.918.900

Tentu kondisi seperti itu banyak yang secara praktis berpikir untuk membajak saja, mudah dan murah. Padahal sudah jelas kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai etika dalam penggunaan software dan dalam aktivitas kita di dunia maya/internet.  Oleh karenannya kondisi maraknya kasus pembajakan software ini tentu secara nyata melanggar etika dan pelaksanaan UU Hak Cipta. Berikut kutipan saat Saya mewawancari seorang praktisi di bidang IT terkait masalah maraknya pembajakan Software ini.

“ Kalo bicara Indonesia, kita kan belum terbiasa beli software. Kita sejak kecil, sejak pertama kali kenal nginstal software, udah dapet SN (Serial Number)  nya dari rental atau dari mana. Dikira SN itu ya udah sepaket ma kalao kita pinjem / sewa cd. Kita ga ngerti kalau justru yang bikin mahal itu SN nya. Kita ga ngerti kalau agar dapet SN itu mesti bayar license.  tanpa sadar itu pencurian.Bahkan, orang2 kaya yang sanggup beli BB, Ipad, males beli aplikasi yang kadang cuma seharga 10rb.itu karena kita ga terbiasa beli software. Wong tinggal nginstal, barangnya ga kelihatan, kok dibeli.beda sama hardware.setelah dikasih tahu kalau itu mesti beli,belum selesai urusan, karena bagi kita online commerce itu masih repot “

(Bondan Satria N, Ketua OmahTI UGM 2011)

Bicara tentang etika, seperti yang kita kenal adalah terkait tentang kualitas baik (yang seyogyanya dilakukan) atau buruk (yang seyogyanya dihindari) atau nilai-nilai tindakan manusia untuk mencapai kebahagiaan serta tentang kearifannya dalam bertindak (Bourke, 1966 dalam Pramumijoyo dan Warmada, 2004 dalam Dewi & Gudono, 2007). Sehingga sudah jelas etika tentu erat kaitannya dengan moralitas. Bagaimana moralitas suatu bangsa itu akan terefleksikan dalam etika mereka dalam ber aktivitas, termasuk dalam penggunaan software bajakan ini. Lalu yang menjadi permasalahan bagaimana untuk membangun etika dan moralitas untuk mengurangi aktivitas pembajakan software ?  Berikut ada beberapa upaya yang bisa dilakukan.

  • Memahami UU tentang Hak Cipta

Tentu ini mutlak harus dilakukan, dengan memahami undang-undang ini maka kita akan tahu tentang hak cipta dan yang terpenting kita akan memahami bagaimana sikap kita untuk menghargai karya cipta yang dihasilkan orang lain. Pengenalan UU Hak Cipta ini sejak dini kepada anak-anak agar mereka mulai mengenal tentang Hak Cipta.

  • Membiasakan Membeli Software

Kebiasaan buruk di Indonesia menggunakan software bajakan tentu harus kita ubah. Perlahan namun pasti kita sudah saatnya mulai membiasakan menghargai setiap hasil cipta orang lain dengan membelinya.

  • Pemerintah Harus Memperketat Aturan

Mungkin hal ini yang secara pribadi saya rasakan. Memang Perundang-undangan sudah ada, namun implementasi dari undang-undang tersebut belum optimal. Hal ini membutuhkan peran dari pemerintah terutama kementerian Komunikasi dan Informasi dan Kementerian Hukum dan HAM. Sanksi yang tegas harus ada untuk memberikan efek jera dari para pelaku.

  • Sarana dan Prasarana Harus Mendukung

Penggunaan software secara legal biasannya dilakukan dengan membayar kepada perusahaan yang membuat software itu.  Tentu transaksi jual beli akan berlangsung yang biasannya dilakukan secara on-line.  Sehingga untuk mendukung itu semua perlu adanya perbaikan dan peningkatan sarana prasarana khususnya sebagai media transaksi online untuk memudahkan transaksi berlangsung.

  • Mengkampanyekan OpenSource

Opensource hadir sebagai solusi akan maraknya kasus pembajakan software dan lain sebagaiannya. Dengan sistem opensource ini, pengguna kebebasan untuk menggunakan dan mengoprek berbagai produk aplikasi ataupun software. Hal ini karena sistem pengembangannya tidak tersentral pada satu individu/perusahaan saja namun tersebar secara luas dan bebas dengan memanfaatkan kode sumber (source code) yang ada. Sehingga para pengguna bisa saling berkomunikasi dan bekerja sama.

Demikian sebuah ulasan Saya terkait maraknya pembajakan konten/software yang menjadi sebuah kebiasaan di negeri ini. Moralitas dan etika seolah dihiraukan hanya untuk mendapatkan sebuah software secara cuma-cuma. Mari kita mulai dari diri kita sendiri dan mulai dari saat ini, sudah saatnya kita menghargai karya orang lain. Karena boleh jadi suatu saat kita menginginkan karya kita dihargai orang lain.

Oleh :

PHISCA ADITYA ROSYADY

10/300113/PA/13141

MAHASISWA JURUSAN ILMU KOMPUTER DAN ELEKTRONIKA
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Sumber Referensi :

http://teknologi.vivanews.com/news/read/245340-indonesia-urutan-ketujuh-pembajak-software

http://teknologi.vivanews.com/news/read/242490-pembajakan-software-telan-kerugian-rp1-3-m

http://nenygory.wordpress.com/2011/08/02/pembajakan-software-software-piracy-dari-perspektif-etika-bisnis/

http://teknologi.kompasiana.com/gadget/2011/12/04/open-source-sebagai-jawaban-kasus-pembajakan-software/

Sumber Gambar :

http://ireneregina.wordpress.com

Posted in Etika dan Bisnis | 37 Comments

Profesi Petugas Sampah : Minim Apresiasi, Sarat Kontribusi

(Sisi lain Film “Toughest Place to be a Bin Man”)

Pekerjaan itu ada karena ada yang dikerjakan.  Pekerjaan itu tersedia karena ada sebuah kontribusi yang bisa dilakukan. Apapun profesinya tentu memiliki sebuah peranan tersendiri.  Bak sebuah sistem rantai makanan, setiap makhluk hidup memiliki nisia (peranan) dalam habitatnya. Begitu pula suatu profesi akan memiliki sebuah peranan tersendiri dalam sebuah sistem kehidupan kita. Saling membutuhkan antara profesi yang satu dengan profesi yang lain. Oleh karena itu kita tidak bisa memandang sebelah mata sebuah profesi, namun kita harus memandang dan menilai profesi itu secara komprehensif dari berbagai sisi.

Dewasa ini, masih ada saja orang yang mendiskreditkan profesi tertentu, sebut saja profesi petugas sampah. Berangkat dari kondisi sampah yang identik dengan kotor, jorok, sumber penyakit, dan lain sebagainnya, tak jarang pula orang memandang sebelah mata profesi yang setiap harinya bergelut dengan sampah itu.  Seolah mereka menyepelekan sebuah profesi hanya karena fisik luarnya saja. Kurang mendalami kontribusi yang bisa dilakukan melalui profesi petugas sampah terhadap khalayak masyarakat dan lingkungan sekitar.

Petugas sampah adalah profesi yang sangat mulia. Mereka bekerja bukan untuk dirinya saja. Namun terlepas dari upaya mereka menghidupi diri dan keluargannya, mereka secara tidak langsung mengabdikan diri kepada orang disekitarnya, kepada lingkungannya, dan kepada negara. Bayangkan saja sehari tanpa petugas sampah tentu akan menyebabkan berbagai bencana dan mengganggu stabilitas kehidupan kita. Bencana banjir, merebaknya penyakit, dan masih banyak lagi kondisi yang akan ditimbulkan jika sampah menumpuk dimana-mana. Hal ini karena tidak ada pengelolaan sampah yang baik. Sisi lain inilah yang sering luput dari kacamata kebanyakan orang saat memberikan sebuah penilaian tentang profesi petugas sampah.  Profesi yang luput dari apresiasi namun justru banyak berkontribusi.

sumber gambar : http://static.republika.co.id

Penulis : Phisca Aditya Rosyady

Posted in Etika dan Bisnis | Tagged | 48 Comments

Analisis Poltranas Indonesia

Polstranas atau yang dikenal sebagai politik nasional dan strategi nasional merupakan suatu asas, haluan, usaha serta tindakan dari negara berikut pengetahuan tentang pembinaan dan penggunaan kekuatan dan potensi nasional secara totalitas untuk mancapai tujuan nasional. Polstranas merupakan suatu kebijakan yang disusun berdasarkan pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam sistem manajemen bangsa kita yang berlandaskan ideology kita yaitu Pancasila, UUD 1945, Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. Dengan berlandaskan hal itulah menjadi acuan dalam  menyusun Polstranas, karena didalamnya terkandung dasar negara, cita-cita nasional dan konsep strategi bangsa Indonesia dan tujuan yang luhur yaitu mewujudkan kesatuan segenap aspek kehidupan baik alamiah maupun sosial. Seiring perkembangan zaman, ada beberapa periodisasi dalam dunia politik di negara kita, ada orde lama yang berada dibawah kekuasaan presiden pertama Indonesia, yaitu Bung Karno, kemudian disusul dengan periodisasi orde baru yang dipimpin oleh Soeharto.Setelah itu kemudian kare ada beberapa desakan akhirnya muncullah reformasi. Ternyata akibat perubahan itu berdampak pula pada beberapa tatanan politik Indonesia.Beberapa hal kini telah berubah dalam sistem ketatanegaraan kita, hal ini menyebabkan perpolikan di negara kita juga banyak berubah demikian halnya dengan kebijakan politik negara kita. Hal ini merupakan imbas dari reformasi yang terjadi pasca tumbangnya Orde Baru yang telah bertahun-tahun menguasai negara kita. Salah satunya mungkin kebijakan  politik strategi nasional. Seperti kita ketahui pada masa orde baru negara kita menjalankan politik strategi nasional berdasarkan GBHN yang dibuat oleh MPR dimana saat itu Presiden merupakan mandataris MPR, dengan demikian GBHN tersebutlah yang akan menjadi acuan sebagai politik strategi nasional. Kebijakan ini kemudian berubah dengan adanya pemilihan langsung oleh rakyat terhadap Presiden dan wakil presiden sejak tahun 2004. GBHN yang pada masa orde baru digunakan sebagai acuan penyusunan poltranas kini diganti dengan dengan pidato visi dan misi dari Presiden dan Wakil Presiden yang disampaikan pada saat siding MPR ketika diangkat secara resmi dan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Namun jauh kebelakang dimasa pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden mereka telah mengungkapkan semua visi dan misi termasuk janji-janji yang mereka sampaikan. Itu sebabnya secara langsung mereka bertanggung jawab secara moral terhadap apa yang mereka sampaikan ketika masa kampanye pemilihan presiden karena kebijakan itu menyangkut keberlangsungan seluruh rakyat Indonesia terutama karena visi dan misi yang telah disampaikan merupakan rangkaian kebijakan yang akan dilaksanakan akan menjadi kebijakan politik strategi nasional selama pemerintahan berlangsung dalam satu periode. Presiden selaku pemimpin pemerintahan dalam melaksanakan semua visi dan misinya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar dibantu oleh para menteri dan para menteri yang diangkat oleh presiden yang akan melaksanakan kebijakan politik startegi nasional tersebut. Dalam penyusunan polstranas tersebut hendaknya presiden tetap memuat tujuan-tujuan negara sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dengan disusunnya politik strategi nasional maka sasaran kebijakan yang akan dilaksanakan hendaknya menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah harus mengambil langkah-langkah pembinaan terhadap masyarakat dengan mencantumkan sasaran yang dituju pada masing-masing bidang karena hal ini jelas menyangkut kelangsungan bangsa kita baik itu dibidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan hankam. Pada masa sekarang ini tentunya peranan warga negara akan semakin tampak dalam hal ini masyarakat sendiri yang akan menjadi pengamat langsung dalam dijalankannya politik strategi nasional yang telah dibuat dan dilaksanakan oleh para penyelenggara negara, guna mewujudkan tujuan luhur negara sebagaimana yang telah disampaikan tadi di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.Jika kita kaji kelebihan dan kekurangan pola penyusunan politik strategi nasional antara pada orde baru dan setelah reformasi, memang bisa dikatakan jika penyusunan potranas pada masa setelah reformasi lebih banyak kelebihan, pada pola penyusunan poltranas dengan mengambil acuan pada pidato visi & misi yang disampaikan oleh presiden terpilih di depan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), maka akan dapat berjalan secara optimal dan relatif lebih rasional dalam pencapaiannya. Hal ini dikarenakan, karena penyusunan poltranas jenis ini merupakan pidato visi dan misi dari presiden terpilih, jadi presiden sudah bisa meramalkan dan merencanakan apa saja dan bagaimana program yang akan dijalankan dalam pencapaian tujuan visi dan misi untuk mewujudkan tujuan negara. Pastinya akan disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian dirinya sebagai seorang presiden, karena memang tidak dapat dipungkiri, seorang presiden adalah sebagai lokomotif dalam pembangunan dan pencapaian tujuan sebuah negara. Selain itu, juga seharusnya visi dan misi dari presiden terpilih memang sudah disosialisasikan kepada rakyat melalui kampanye politik sebelum diselenggarakan pemilihan umum (Pemilu). Jadi jikalau presiden telah terpilih melalui pesta demokrasi pemilu, memang visi dan misi presiden terpilih itu memang telah disetujui oleh rakyat, jadi sudah dapat dipastikan bahwa mayoritas rakyat merestui visi dan misi presiden terpilih itu. Akhirnya dalam pelaksanaan pada masa kerja presiden periode itu akan lebih terjaga stabilitasnya.Berbeda dengan pola penyusunan politik strategi nasional pada masa orde baru, yaitu dengan mengambil acuan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang dibuat oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Ada beberapa kelemahan dari pola penyusunan politik strategi nasional ini, yang pertama adalah pola ini dikhawatirkan akan sulit terealisasi. Hal ini disebabkan karena pada pola ini yaitu mengambil acuan  pada  Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang dibentuk oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), sehingga kurang memperhatikan seberapa besar kemampuan dari presiden dan keahlian dari presiden sebagai lokomotif dan garis depan dalam pembangunan dan pencapaian tujuan negara. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya dalam pencapaian tujuan negara. Kemudian yang kedua dalam pola penyusunan poltranas kali ini rakyat tidak dilibatkan secara langsung. Tidak seperti pada pola penyusunan poltranas pada masa setelah orde baru, rakyat bisa ikut memilih visi dan misi apa yang akan dibawa oleh calon presiden. Akan tetapi pada pola penyusunan poltranas masa orde baru rakyat hanya terrepresentasi oleh suara dari anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. Sehingga dalam perjalanannya dikhawatirkan kestabilan akan terganggu oleh kekuatan rakyat yang kurang setuju.

Referensiwww.juliahamsy.blogspot.comwww.bersblogaddres.blogspot.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENAKAR KEMBALI KEBIJAKAN NATURALISASI

Oleh : PHISCA ADITYA ROSYADY

Awal Desember menjadi sejarah penting dalam dunia persepakbolaan Indonesia. Dalam 3 laga awal Piala AFF tahun 2010 ini, Indonesia menyapu bersih dengan nilai sempurna. Itu artinya Indonesia menang di dalam 3 pertandingan sekaligus. Bahkan dengan hasil yang tidak tanggung-tanggung lagi, dalam pertandingan perdananya, Indonesia membantai negeri jiran, Malaysia dengan skor 5-1. Kemudian di laga kedua, timnas merah putih kembali mengeluarkan tajinya dengan membungkam timnas Laos dengan skor 6-0.
Sedangkan di pertandingan ketiga, Indonesia menang tipis dengan Negara Gajah Putih dengan hasil 2-1, walaupun dalam pertandingan ini banyak pengamat sepakbola yang kurang puas dengan permainan tim Garuda Indonesia, karena 2 gol dihasilkan hanya lewat titik putih. Akan tetapi secara keseluruhan , banyak pengamat sepakbola yang mengatakan bahwa ini adalah awal kebangkitan timnas sepakbola Indonesia. Ada 2 faktor yang menyebabkan performa permainan tim nasional kita menunjukkan peningkatan dalam 3 pertandingan terakhir ini. Faktor yang pertama adalah factor dari luar. Faktor luar ini adalah tidak lain adalah dampak dari adannya kebijakan naturalisasi yang akhirnya dengan berbagai kontroversinya tetap dilaksanakan oleh pemerintah. Dua pemain hasil naturalisasi langsung diujicobakan untuk membela timnas dalam perhelatan AFF tahun 2010 ini. Dua pemain itu adalah Christian Gonzalez dan Irfan Bachdim. Gonzalez yang awalnya berkebangsaan Uruguay dan Irfan Bachdim yang awalnya berkebangsaan Belanda ini mampu memberikan angin segar bagi permainan tim merah putih. Selain itu, factor luar lainnya adalah factor dari para supporter yang sangat setia tidak henti-hentinya memberikan semangat kepada tim kebanggaan bangsa Indonesia ini. Hal ini bisa diamati dalam pertandingan perdana melawan musuh bebuyutan Malaysia, Stadion Gelora Bung Karno dipadati oleh lautan merah para supporter fanatic tim garuda Indonesia.Memang melawan Malaysia ini berbeda dengan musuh yang lainnya, Indonesia dan Malaysia sering berseteru baik masalah perbatasan negara, politik, ataupun ketenagakerjaan. Itulah yang menyebabkan iklim saat pertandingan menjadi berbeda dan bisa dikatakan lebih tegang. Akan tetapi dalam pertandingan kemarin dengan adannya supporter yang memadati stadion kebanggaan Indonesia itu, seakan kita, bangsa Indonesia justru sedang menghakimi para pemain Malaysia, dan akhirnya tim merah putih bisa membantai dengan skor 5-1, setelah membalikkan keadaan setelah awalnya Malaysia unggul 1-0. Jadi sudah jelas factor supporter sangat berpengaruh dalam kemenangan sebuah timnas karena dengan supporter itulah, timnas bisa bersemangat dan karena suporterlah kita bisa menjatuhkn mental lawan. Kemudian factor yang kedua adalah factor dari dalam, dalam hal ini jika kita lihat dari performa pemain timnas kita, memang menunjukkan kemajuan baik secara individu maupun secara kolektif. Hal ini disebabkan dengan latihan yang secara kontinu dipersiapkan untuk kompetisi AFF tahun ini. Selain itu semangat, motivasi, dan mental pemain juga sangat berpengaruh pada performa mereka di setiap pertandingan yang mereka hadapi.
Terlepas dari factor-faktor yang menyebabkan peningkatan performa dari permainan timnas kita, ada satu hal yang menarik untuk dibahas di balik kesuksesan timnas Indonesia ini. Hal menarik itu adalah kebijakan naturalisasi yang akhirnya diterapkan oleh pemerintah Indonesia dan akhirnya menghasilkan dua pemain “asing” yang mengawali debutnya bersama tim nasional dalam kompetisi AFF kali ini. Tentu dua pemain hasil naturalisasi ini sekarang menjadi sorotan banyak pihak. Sebelum kita membahas masalah ini lebih dalam lagi, terlebih dahulu ada sekilas profil kedua pemain hasil naturalisasi pada awal desember lalu. Christian Gonzales sejak sudah meminta agar kewarganegaraannya diubah, ia sangat ingin membela timnas Indonesia. Pada tanggal 1 November 2010, impiannya terkabul. Christian Gonzales atau akrab disapa El loco resmi menjadi Warga Negara Indonesia dan pada tanggal 21 november 2010 ia melakukan debut perdananya bersama timnas sepakbola Indonesia. Kini ia termasuk satu dari 22 pemain yang dipanggil pelatih Alfred Riedl untuk membela timnas Indonesia di ajang AFF Cup. Pada debutnya kali ini dia tidak menyia-nyiakan.Gol pertama El Loco di ajang resmi adalah ketika Indonesia melibas Malaysia pada ajang piala AFF 4 Desember silam. Pada pertandingan-pertandingan berikutnya, ia kerap menciptakan peluang bagi Indonesia. El Loco mengaku bahagia mengenakan jersey Merah-Putih. Ia ingin bermain membela Indonesia sampai umur 40 tahun. Sedangkan Irfan Bachdim, juga tak kalah tenar dibandingkan Gonzales.Lahir dengan nama Irfan Haarys Bachdim, lelaki kelahiran Amsterdam Belanda, tanggal 11 Agustus 1988 ini, resmi bermain membela Timnas PSSI pada tanggal 1 Desember 2010 yang baru lalu. Pada penampilan perdananya itu Irfan menyumbang satu gol saat Indonesia melindas Malaysia 5-1 di Gelora Bung Karno pada ajang AFF 2010.Di ajang AFF 2010, pelatih timnas senior Indonesia Alfred Riedl, menempatkan Irfan pada posisi penyerang.
Memang kita tidak dapat mengelak kalau dengan adanya pemain naturalisasi tersebut, timnas menjadi lebih garang. Seakan para pemain naturalisasi itu memberikan sebuah roh baru yang menyemangati permainan tim asuhan Alfred Riedl. Gonzales dan Irfan juga tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Alfred Riedl dan seluruh Bangsa Indonesia. Akan tetapi kebijakan naturalisasi ini tidaklah berjalan mulus dalam prosesnya. Sebenarnya sejak awal perencanaan sudah banyak pihak yang tidak setuju, dan sampai sekarang pun ada beberapa pihak yang tidak setuju dengan kebijakan naturalisasi ini. Akan tetapi juga tidak sedikit masyarakat Indonesia yang setuju dengan diterapkannya kebijakan naturalisasi bagi para pemain asing yang ingin membela timnas merah putih
Pihak yang setuju berpendapat dengan adanya kebijakan naturalisasi tersebut, diharapkan bisa memompa kekuatan tim nasional sepak bola kebanggaan kita ini. Hal ini bisa terjadi karena para pemain dari luar/ asing yang tentu lebih berpengalaman dibandingkan dengan para pemain lokal di timnas kita diharapkan bisa menularkan dan berbagi pengalaman maupun strategi kepada pemain-pemain lokal sehingga nantinya akan terbentuk sebuah tim yang kuat yang tidak kalah dengan timnas bangsa lain. Memang pernyataan ini telah terbukti dalam penampilan timnas kita setelah ada kebijakan naturalisasi dalam kompetisi AFF baru-baru ini. Di saat Christian Gonzales dan Irfan Bachdim ikut membela timnas kita dalam debutnya, seakan penampilan timnas kita mengalami peningkatan, baik secara individu ataupun secara tim. Selain itu peningkatan mental dan kepercayadirian pemain seakan menguat. Hal ini bisa kita amati pada saat pertandingan perdana di Piala AFF 2010 ini. Saat itu timnas Indonesia tertinggal 1-0 dari Malaysia. Akan tetapi tim kita tidak kendor semangatnya, tidak drop mentalnya, tapi justru gol itu menjadi sebuah lecutan penyemangat buat mereka. Permainan tetap berjalan dengan baik, bahkan timnas kita bisa membalikkan kedudukan dengan skor yang cukup telak, 5-1. Ini adalah indikasi bahwa tim kita adalah tim yang kuat dan bermental juara serta tidak mudah menyerah. Fenomena-fenomena semacam ini jarang kita temukan pada penampilan-penampilan timnas kita sebelumnya. Jadi memang benar jika dengan masuknya Christian Gonzales dan Irfan Bachdim dalam skuad timnas kita akan memberikan perubahan yang berarti bagi timnas merah putih untuk saat ini dan tentunya diharapkan untuk kedepannya juga. Selain itu dengan masuknya kedua pemain naturalisasi ini diharapkan akan menambah panasnya kompetisi di dalam sekuad merah putih untuk menjadi pemain utama.
Sebuah kebijakan dapat dipastikan ada yang setuju dan ada yang tidak setuju, itulah pro kontra yang terjadi. Disaat euphoria kemenangan timnas kita yang diindikasi merupakan berkat kebijakan naturalisasi yang diterapkan, ada pihak yang setuju dengan opini yang telah disampaiakan di atas, dan pastinya ada juga yang menyatakan sikapnya kalau tidak setuju dengan kebijakan naturalisasi yang di berlakukan di Negara Indonesia ini. Pihak yang tidak setuju beranggapan dengan diterapkannya kebijakan naturalisasi pada pemain-pemain sepakbola untuk dapat membela timnas ini, memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan. Dengan adanya naturalisasi dikhawatirkan akan menyingkirkan pemain-pemain lokal Indonesia untuk membela timnasnya sendiri. Hal ini dikarenakan jika naturalisasi terjadi dan sudah dihalalkan lagi untuk diterapkan maka iklim persaingan untuk menjadi pemain utama timnas kita akan semakin memanas. Siapa yang kuat, akan menang. Siapa yang memiliki performa pemainan bagus akan menjadi pemain utama dalam timnas. Itu artinya jika Indonesia melakukan naturalisasi secara tidak terkendali dan secara rutin, maka para pemain lokal kita akan tersingkir jika mereka tidak bisa berkompetisi. Padahal jika kita amati para pemain asing itu kebanyakan memiliki level yang lebih tinggi dibandingkan dengan para pemain lokal. Sehingga jelas naturalisasi yang berlebihan akan berdampak buruk pada eksistensi pemain lokal. Kita bisa belajar seperti pada bidang perdagangan dan perekonomian, semenjak diterapkannya system ekonomi pasar bebas di dunia, banyak sekali produk – produk yang berkualitas yang masuk ke Indonesia. Produk asing iniperlu diketahua sangatlah berkualitas dan bisa dikatakan jauh dari kualitas di Indonesia. Hal ini disebabkan karena di Negara-negara produsennya telah menerapkan teknologi yang canggih. Sehingga dihasilkan produk yang berkualitas tetapi tetap dengan harga yang relative lebih murah dibandingkan dengan produk Negara kita. Sehingga produk dalam negeri yang tidak mampu bersaing akan gulung tikar atau bangkrut. Fenomena ini bisa kita analogikan dengan fenomena naturalisasi yang sedang hangat-hangatnya saat ini. Jika para pemain lokal tidak bisa bersaing, maka mereka akan tersingkir dan terancam tidak bisa membela timnas sepakbola negarannya sendiri. Dan jika kita kaji lebih dalam lagi hal ini akan berakibat fatal terhadap perkembangan timnas kita.
Jika naturalisasi dilakukan secara berani, sebagai contoh Negara Filipina, mereka menaturalisasi 8 pemain sekaligus. Maka pemain lokal bisa jai justru tidak ada yang bermain membela timnas kebanggaan negaranya. Timnas justru diisi dengan pemain asing semua. Lalu apalagi kebanggaan kita terhadap timnas kita, mereka melenggang menang di beberapa kompetisi atau bahkan bisa mengikuti piala dunia sekaligus tetapi para pemain yang kita dukung adalah pemain asing semua. Para pemain yang kita dukung adalah bukan bangsa kita sendiri. Sungguh sangat ironi sekali jika kita mendukung mati-matian untuk para pemain asing. Walaupun mereka memang di dalam wadah timnas kita. Ini sangatlah penting untuk kita perhatikan agar kita tidak asal menerima keputusan yang secara semu memberikan keuntungan bagi kualitas timnas kita, tetapi kebijakan ini mungkin justru berakibat fatal bagi timnas untuk kedepannya. Jika kita mengamati fenomena-fenomena yang terjadi setelah kebijakan naturalisasi ini diterapkan di Indonesia, sebagai salah satu cntoh yang harus kita sikapi adalah euphoria kemenangan dan kebanggaan pada salah seorang pemain saja, dan yang lebih parah lagi, pemain itu adalah pemain hasil naturalisasi, bukan pemain lokal Indonesia. Mayoritas para para penggila bola di Indonesia sekarang sudah tidak asing lagi mengenal Christian Gonzales dan Irfan Bachdim. Bahkan mereka terkadang mengelu-elukan mereka secara berlebihan. Sebagai contoh bisa kita amati dalam jejaring social twitter, setelah Indonesia mendepak Malaysia, follower dari twitternya irfan Bachdim melonjak drastic. Selain itu di jejaring social facebook misalnya, setelah pertandingan itu mayoritas status adalah tentang sosok pemain Christian Gonzales dan Irfan Bachdim. Hal ini juga pernah terjadi dalam disaat pertandingan berlangsung di stadion dimana dilaksanakan pertandingan, di sana para penonton dan supporter berteriak yang intinya mengelu-elukan sosok Irfan Bachdim. Ini hanya beberapa fenomena –fenomena yang mungkin secara Nampak kita bisa mengamatinya. Fenomena-fenomena diatas jika kita amati ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya adalah hal ini wajar karena memang itu semua adalah bentuk dari penghargaan bagi para pemain naturalisasi ini karena telah member warna yang berbeda pada permainan timnas kita. Akan tetapi jika kita lihat dari sisi negatifnya,fenomena-fenomena kebanggaan terhadap para pemain hasil naturalisasi ini berdampak pada kecemburuan antar pemain. Pemain lokal Indonesia yang juga sudah berjuang keras sampai titik darah penghabisan membela timnas, justru tidak ada penghargaan yang diberikan dari masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia seakan larut dalam kekaguman pada sosok pemain hasil naturalisasi ini baik Christian Gonzales maupun Irfan Bachdim. Mereka sudah jarang atau bahkan memberi penghargaan pada para pemain lokal. Akhirnya jika kita sudah tidak kagum lagi pada para pemain lokal kita, maka ini akan berbahaya terhadap kebanggaan kepada timnas kita dan pada akhirnya akan berbahaya pada pemahaman nasionalisme yang tertanam pada diri setiap rakyat Indonesia. Memang ini sudah terlalu jauh berangan-angan kedepan, akan tetapi masalah nasionalisme bangsa adalah masalah yang sangat vital bagi suatu Negara yang ingin tetap mempertahankan eksistensinya. Maka alangkah baiknya jika kita bisa mengantisipasinya terlebih dahulu sebelum masalah yang besar melanda kita. Kembali kepada permasalahan pokok, jika kita terlalu berlebihan dalam kebanggaan kita pada pemain hasil naturalisasi maka memang secara tidak langsung kita menggerus nilai-nilai nasionalisme pada diri kita jika kita tidak bisa membentenginya. Dikhawatirkan kebanggaan kita itu berubah menjadi silau, artinya kita benar-benar hidup mati mendukung pemain naturalisasi yang ini sangat berbahaya pada rasa nasionalisme yang kita miliki.
Kemudian yang menjadi permasalahn lagi apakah para pemain hasil naturalisasi itu berjuang benar-benar demi kajayaan Garuda Indonesia? Memang kita tidak tahu secara pasti apa motivasi dan alasan para pemain asing itu mengajukan untuk dilakukan naturalisasi padanya agar mereka bisa membela timnas Indonesia. Apakah karena materi dan mencari popularitas? Apakah memang murni untuk Indonesia. Yang menjadi permasalahan adalah jika para pemain ini memiliki motivasi hanya untuk mencari popularitas atau materi belaka. Mereka mungkin saja memiliki anggapan bahwa Indonesia itu minim pemain yang berkualitas dan dengan masuknya dia, dia pasti akan selalu dimainkan di timnas. Pada akhirnya dia akan mendapatkan beberapak keuntungan dari kebijakan ini, seperti materi yang berupa gaji, kemudian popularitas yang pasti menjadi akibat dari itu semua. Jika seperti itu menunjukkan bahwa mereka berjuang itu bukan karena jiwa Indonesia-nya, bukan karena jiwa nasionalisme terhadap Negara barunya, tetapi hanya karena mencari keuntungan – keuntungan pribadi yang ingin dia dapatkan. Secara tidak langsung mungkin bisa dikatakan kalau timnas kita hanya sebagai klub-klub murahan yang bisa dimasuki para pemain yang belum tahu pasti sikap nasionalisme dia terhadap Indonesia yang seharusnya patut ia miliki disaat dia membela timnas Indonesia. Hal ini sungguh memalukan bangsa Indonesia, dan secara tidak langsung bias dikatakan kita menjual nilai luhur nasionalisme hanya untuk sebuah kemenangan timnas yang mungkin jauh nilainnya di bandingkan jiwa nasionalisme yang patut dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Untuk solusi kedepannya, diharapkan pemerintah berpikir berkali-kali bahkan seribu kali untuk kembali menerapkan kebijakan naturalisasi yang sudah diterapkan pertama kali pada akhir tahun 2010 ini. Kita masih punya para pemain yang berkualitas yang seharusnya justru focus kita sumber dayakan, kita latih dan kita hargai kerja keras mereka semua terhadap Negera Indonesia. Kita termasuk Negara dengan penduduk yang banyak, alangkah ironisnya jika kita tidak bias mencari 11 pemain untuk membela timnas kita. Jadi harapan kami, smoga ke depan pemerintah kembali meningkatkan pembibitan atlit-atlit dan pemain sepakbola khususnya dengan anggaran yang memadai dan tentunya dengan fasilitas yang cukup. Maka ke depan Indonesia akan menjadi macan asia bahkan dunia dalam persepakbolaan tanpa meminta bantuan pemain asing.

Oleh : PHISCA ADITYA ROSYADYAwal Desember menjadi sejarah penting dalam dunia persepakbolaan Indonesia. Dalam 3 laga awal Piala AFF tahun 2010 ini, Indonesia menyapu bersih dengan nilai sempurna. Itu artinya Indonesia menang di dalam 3 pertandingan sekaligus. Bahkan dengan hasil yang tidak tanggung-tanggung lagi, dalam pertandingan perdananya, Indonesia membantai negeri jiran, Malaysia dengan skor 5-1. Kemudian di laga kedua, timnas merah putih kembali mengeluarkan tajinya dengan membungkam timnas Laos dengan skor 6-0. Sedangkan di pertandingan ketiga, Indonesia menang tipis dengan Negara Gajah Putih dengan hasil 2-1, walaupun dalam pertandingan ini banyak pengamat sepakbola yang kurang puas dengan permainan tim Garuda Indonesia, karena 2 gol dihasilkan hanya lewat titik putih. Akan tetapi secara keseluruhan , banyak pengamat sepakbola yang mengatakan bahwa ini adalah awal kebangkitan timnas sepakbola Indonesia. Ada 2 faktor yang menyebabkan performa permainan tim nasional kita menunjukkan peningkatan dalam 3 pertandingan terakhir ini. Faktor yang pertama adalah factor dari luar. Faktor luar ini adalah tidak lain adalah dampak dari adannya kebijakan naturalisasi yang akhirnya dengan berbagai kontroversinya tetap dilaksanakan oleh pemerintah. Dua pemain hasil naturalisasi langsung diujicobakan untuk membela timnas dalam perhelatan AFF tahun 2010 ini. Dua pemain itu adalah Christian Gonzalez dan Irfan Bachdim. Gonzalez yang awalnya berkebangsaan Uruguay dan Irfan Bachdim yang awalnya berkebangsaan Belanda ini mampu memberikan angin segar bagi permainan tim merah putih. Selain itu, factor luar lainnya adalah factor dari para supporter yang sangat setia tidak henti-hentinya memberikan semangat kepada tim kebanggaan bangsa Indonesia ini. Hal ini bisa diamati dalam pertandingan perdana melawan musuh bebuyutan Malaysia, Stadion Gelora Bung Karno dipadati oleh lautan merah para supporter fanatic tim garuda Indonesia.Memang melawan Malaysia ini berbeda dengan musuh yang lainnya, Indonesia dan Malaysia sering berseteru baik masalah perbatasan negara, politik, ataupun ketenagakerjaan. Itulah yang menyebabkan iklim saat pertandingan menjadi berbeda dan bisa dikatakan lebih tegang. Akan tetapi dalam pertandingan kemarin dengan adannya supporter yang memadati stadion kebanggaan Indonesia itu, seakan kita, bangsa Indonesia justru sedang menghakimi para pemain Malaysia, dan akhirnya tim merah putih bisa membantai dengan skor 5-1, setelah membalikkan keadaan setelah awalnya Malaysia unggul 1-0. Jadi sudah jelas factor supporter sangat berpengaruh dalam kemenangan sebuah timnas karena dengan supporter itulah, timnas bisa bersemangat dan karena suporterlah kita bisa menjatuhkn mental lawan. Kemudian factor yang kedua adalah factor dari dalam, dalam hal ini jika kita lihat dari performa pemain timnas kita, memang menunjukkan kemajuan baik secara individu maupun secara kolektif. Hal ini disebabkan dengan latihan yang secara kontinu dipersiapkan untuk kompetisi AFF tahun ini. Selain itu semangat, motivasi, dan mental pemain juga sangat berpengaruh pada performa mereka di setiap pertandingan yang mereka hadapi.Terlepas dari factor-faktor yang menyebabkan peningkatan performa dari permainan timnas kita, ada satu hal yang menarik untuk dibahas di balik kesuksesan timnas Indonesia ini. Hal menarik itu adalah kebijakan naturalisasi yang akhirnya diterapkan oleh pemerintah Indonesia dan akhirnya menghasilkan dua pemain “asing” yang mengawali debutnya bersama tim nasional dalam kompetisi AFF kali ini. Tentu dua pemain hasil naturalisasi ini sekarang menjadi sorotan banyak pihak. Sebelum kita membahas masalah ini lebih dalam lagi, terlebih dahulu ada sekilas profil kedua pemain hasil naturalisasi pada awal desember lalu. Christian Gonzales sejak sudah meminta agar kewarganegaraannya diubah, ia sangat ingin membela timnas Indonesia. Pada tanggal 1 November 2010, impiannya terkabul. Christian Gonzales atau akrab disapa El loco resmi menjadi Warga Negara Indonesia dan pada tanggal 21 november 2010 ia melakukan debut perdananya bersama timnas sepakbola Indonesia. Kini ia termasuk satu dari 22 pemain yang dipanggil pelatih Alfred Riedl untuk membela timnas Indonesia di ajang AFF Cup. Pada debutnya kali ini dia tidak menyia-nyiakan.Gol pertama El Loco di ajang resmi adalah ketika Indonesia melibas Malaysia pada ajang piala AFF 4 Desember silam. Pada pertandingan-pertandingan berikutnya, ia kerap menciptakan peluang bagi Indonesia. El Loco mengaku bahagia mengenakan jersey Merah-Putih. Ia ingin bermain membela Indonesia sampai umur 40 tahun. Sedangkan Irfan Bachdim, juga tak kalah tenar dibandingkan Gonzales.Lahir dengan nama Irfan Haarys Bachdim, lelaki kelahiran Amsterdam Belanda, tanggal 11 Agustus 1988 ini, resmi bermain membela Timnas PSSI pada tanggal 1 Desember 2010 yang baru lalu. Pada penampilan perdananya itu Irfan menyumbang satu gol saat Indonesia melindas Malaysia 5-1 di Gelora Bung Karno pada ajang AFF 2010.Di ajang AFF 2010, pelatih timnas senior Indonesia Alfred Riedl, menempatkan Irfan pada posisi penyerang.Memang kita tidak dapat mengelak kalau dengan adanya pemain naturalisasi tersebut, timnas menjadi lebih garang. Seakan para pemain naturalisasi itu memberikan sebuah roh baru yang menyemangati permainan tim asuhan Alfred Riedl. Gonzales dan Irfan juga tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Alfred Riedl dan seluruh Bangsa Indonesia. Akan tetapi kebijakan naturalisasi ini tidaklah berjalan mulus dalam prosesnya. Sebenarnya sejak awal perencanaan sudah banyak pihak yang tidak setuju, dan sampai sekarang pun ada beberapa pihak yang tidak setuju dengan kebijakan naturalisasi ini. Akan tetapi juga tidak sedikit masyarakat Indonesia yang setuju dengan diterapkannya kebijakan naturalisasi bagi para pemain asing yang ingin membela timnas merah putihPihak yang setuju berpendapat dengan adanya kebijakan naturalisasi tersebut, diharapkan bisa memompa kekuatan tim nasional sepak bola kebanggaan kita ini. Hal ini bisa terjadi karena para pemain dari luar/ asing yang tentu lebih berpengalaman dibandingkan dengan para pemain lokal di timnas kita diharapkan bisa menularkan dan berbagi pengalaman maupun strategi kepada pemain-pemain lokal sehingga nantinya akan terbentuk sebuah tim yang kuat yang tidak kalah dengan timnas bangsa lain. Memang pernyataan ini telah terbukti dalam penampilan timnas kita setelah ada kebijakan naturalisasi dalam kompetisi AFF baru-baru ini. Di saat Christian Gonzales dan Irfan Bachdim ikut membela timnas kita dalam debutnya, seakan penampilan timnas kita mengalami peningkatan, baik secara individu ataupun secara tim. Selain itu peningkatan mental dan kepercayadirian pemain seakan menguat. Hal ini bisa kita amati pada saat pertandingan perdana di Piala AFF 2010 ini. Saat itu timnas Indonesia tertinggal 1-0 dari Malaysia. Akan tetapi tim kita tidak kendor semangatnya, tidak drop mentalnya, tapi justru gol itu menjadi sebuah lecutan penyemangat buat mereka. Permainan tetap berjalan dengan baik, bahkan timnas kita bisa membalikkan kedudukan dengan skor yang cukup telak, 5-1. Ini adalah indikasi bahwa tim kita adalah tim yang kuat dan bermental juara serta tidak mudah menyerah. Fenomena-fenomena semacam ini jarang kita temukan pada penampilan-penampilan timnas kita sebelumnya. Jadi memang benar jika dengan masuknya Christian Gonzales dan Irfan Bachdim dalam skuad timnas kita akan memberikan perubahan yang berarti bagi timnas merah putih untuk saat ini dan tentunya diharapkan untuk kedepannya juga. Selain itu dengan masuknya kedua pemain naturalisasi ini diharapkan akan menambah panasnya kompetisi di dalam sekuad merah putih untuk menjadi pemain utama.Sebuah kebijakan dapat dipastikan ada yang setuju dan ada yang tidak setuju, itulah pro kontra yang terjadi. Disaat euphoria kemenangan timnas kita yang diindikasi merupakan berkat kebijakan naturalisasi yang diterapkan, ada pihak yang setuju dengan opini yang telah disampaiakan di atas, dan pastinya ada juga yang menyatakan sikapnya kalau tidak setuju dengan kebijakan naturalisasi yang di berlakukan di Negara Indonesia ini. Pihak yang tidak setuju beranggapan dengan diterapkannya kebijakan naturalisasi pada pemain-pemain sepakbola untuk dapat membela timnas ini, memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan. Dengan adanya naturalisasi dikhawatirkan akan menyingkirkan pemain-pemain lokal Indonesia untuk membela timnasnya sendiri. Hal ini dikarenakan jika naturalisasi terjadi dan sudah dihalalkan lagi untuk diterapkan maka iklim persaingan untuk menjadi pemain utama timnas kita akan semakin memanas. Siapa yang kuat, akan menang. Siapa yang memiliki performa pemainan bagus akan menjadi pemain utama dalam timnas. Itu artinya jika Indonesia melakukan naturalisasi secara tidak terkendali dan secara rutin, maka para pemain lokal kita akan tersingkir jika mereka tidak bisa berkompetisi. Padahal jika kita amati para pemain asing itu kebanyakan memiliki level yang lebih tinggi dibandingkan dengan para pemain lokal. Sehingga jelas naturalisasi yang berlebihan akan berdampak buruk pada eksistensi pemain lokal. Kita bisa belajar seperti pada bidang perdagangan dan perekonomian, semenjak diterapkannya system ekonomi pasar bebas di dunia, banyak sekali produk – produk yang berkualitas yang masuk ke Indonesia. Produk asing iniperlu diketahua sangatlah berkualitas dan bisa dikatakan jauh dari kualitas di Indonesia. Hal ini disebabkan karena di Negara-negara produsennya telah menerapkan teknologi yang canggih. Sehingga dihasilkan produk yang berkualitas tetapi tetap dengan harga yang relative lebih murah dibandingkan dengan produk Negara kita. Sehingga produk dalam negeri yang tidak mampu bersaing akan gulung tikar atau bangkrut. Fenomena ini bisa kita analogikan dengan fenomena naturalisasi yang sedang hangat-hangatnya saat ini. Jika para pemain lokal tidak bisa bersaing, maka mereka akan tersingkir dan terancam tidak bisa membela timnas sepakbola negarannya sendiri. Dan jika kita kaji lebih dalam lagi hal ini akan berakibat fatal terhadap perkembangan timnas kita.Jika naturalisasi dilakukan secara berani, sebagai contoh Negara Filipina, mereka menaturalisasi 8 pemain sekaligus. Maka pemain lokal bisa jai justru tidak ada yang bermain membela timnas kebanggaan negaranya. Timnas justru diisi dengan pemain asing semua. Lalu apalagi kebanggaan kita terhadap timnas kita, mereka melenggang menang di beberapa kompetisi atau bahkan bisa mengikuti piala dunia sekaligus tetapi para pemain yang kita dukung adalah pemain asing semua. Para pemain yang kita dukung adalah bukan bangsa kita sendiri. Sungguh sangat ironi sekali jika kita mendukung mati-matian untuk para pemain asing. Walaupun mereka memang di dalam wadah timnas kita. Ini sangatlah penting untuk kita perhatikan agar kita tidak asal menerima keputusan yang secara semu memberikan keuntungan bagi kualitas timnas kita, tetapi kebijakan ini mungkin justru berakibat fatal bagi timnas untuk kedepannya. Jika kita mengamati fenomena-fenomena yang terjadi setelah kebijakan naturalisasi ini diterapkan di Indonesia, sebagai salah satu cntoh yang harus kita sikapi adalah euphoria kemenangan dan kebanggaan pada salah seorang pemain saja, dan yang lebih parah lagi, pemain itu adalah pemain hasil naturalisasi, bukan pemain lokal Indonesia. Mayoritas para para penggila bola di Indonesia sekarang sudah tidak asing lagi mengenal Christian Gonzales dan Irfan Bachdim. Bahkan mereka terkadang mengelu-elukan mereka secara berlebihan. Sebagai contoh bisa kita amati dalam jejaring social twitter, setelah Indonesia mendepak Malaysia, follower dari twitternya irfan Bachdim melonjak drastic. Selain itu di jejaring social facebook misalnya, setelah pertandingan itu mayoritas status adalah tentang sosok pemain Christian Gonzales dan Irfan Bachdim. Hal ini juga pernah terjadi dalam disaat pertandingan berlangsung di stadion dimana dilaksanakan pertandingan, di sana para penonton dan supporter berteriak yang intinya mengelu-elukan sosok Irfan Bachdim. Ini hanya beberapa fenomena –fenomena yang mungkin secara Nampak kita bisa mengamatinya. Fenomena-fenomena diatas jika kita amati ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya adalah hal ini wajar karena memang itu semua adalah bentuk dari penghargaan bagi para pemain naturalisasi ini karena telah member warna yang berbeda pada permainan timnas kita. Akan tetapi jika kita lihat dari sisi negatifnya,fenomena-fenomena kebanggaan terhadap para pemain hasil naturalisasi ini berdampak pada kecemburuan antar pemain. Pemain lokal Indonesia yang juga sudah berjuang keras sampai titik darah penghabisan membela timnas, justru tidak ada penghargaan yang diberikan dari masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia seakan larut dalam kekaguman pada sosok pemain hasil naturalisasi ini baik Christian Gonzales maupun Irfan Bachdim. Mereka sudah jarang atau bahkan memberi penghargaan pada para pemain lokal. Akhirnya jika kita sudah tidak kagum lagi pada para pemain lokal kita, maka ini akan berbahaya terhadap kebanggaan kepada timnas kita dan pada akhirnya akan berbahaya pada pemahaman nasionalisme yang tertanam pada diri setiap rakyat Indonesia. Memang ini sudah terlalu jauh berangan-angan kedepan, akan tetapi masalah nasionalisme bangsa adalah masalah yang sangat vital bagi suatu Negara yang ingin tetap mempertahankan eksistensinya. Maka alangkah baiknya jika kita bisa mengantisipasinya terlebih dahulu sebelum masalah yang besar melanda kita. Kembali kepada permasalahan pokok, jika kita terlalu berlebihan dalam kebanggaan kita pada pemain hasil naturalisasi maka memang secara tidak langsung kita menggerus nilai-nilai nasionalisme pada diri kita jika kita tidak bisa membentenginya. Dikhawatirkan kebanggaan kita itu berubah menjadi silau, artinya kita benar-benar hidup mati mendukung pemain naturalisasi yang ini sangat berbahaya pada rasa nasionalisme yang kita miliki.Kemudian yang menjadi permasalahn lagi apakah para pemain hasil naturalisasi itu berjuang benar-benar demi kajayaan Garuda Indonesia? Memang kita tidak tahu secara pasti apa motivasi dan alasan para pemain asing itu mengajukan untuk dilakukan naturalisasi padanya agar mereka bisa membela timnas Indonesia. Apakah karena materi dan mencari popularitas? Apakah memang murni untuk Indonesia. Yang menjadi permasalahan adalah jika para pemain ini memiliki motivasi hanya untuk mencari popularitas atau materi belaka. Mereka mungkin saja memiliki anggapan bahwa Indonesia itu minim pemain yang berkualitas dan dengan masuknya dia, dia pasti akan selalu dimainkan di timnas. Pada akhirnya dia akan mendapatkan beberapak keuntungan dari kebijakan ini, seperti materi yang berupa gaji, kemudian popularitas yang pasti menjadi akibat dari itu semua. Jika seperti itu menunjukkan bahwa mereka berjuang itu bukan karena jiwa Indonesia-nya, bukan karena jiwa nasionalisme terhadap Negara barunya, tetapi hanya karena mencari keuntungan – keuntungan pribadi yang ingin dia dapatkan. Secara tidak langsung mungkin bisa dikatakan kalau timnas kita hanya sebagai klub-klub murahan yang bisa dimasuki para pemain yang belum tahu pasti sikap nasionalisme dia terhadap Indonesia yang seharusnya patut ia miliki disaat dia membela timnas Indonesia. Hal ini sungguh memalukan bangsa Indonesia, dan secara tidak langsung bias dikatakan kita menjual nilai luhur nasionalisme hanya untuk sebuah kemenangan timnas yang mungkin jauh nilainnya di bandingkan jiwa nasionalisme yang patut dimiliki oleh bangsa Indonesia.Untuk solusi kedepannya, diharapkan pemerintah berpikir berkali-kali bahkan seribu kali untuk kembali menerapkan kebijakan naturalisasi yang sudah diterapkan pertama kali pada akhir tahun 2010 ini. Kita masih punya para pemain yang berkualitas yang seharusnya justru focus kita sumber dayakan, kita latih dan kita hargai kerja keras mereka semua terhadap Negera Indonesia. Kita termasuk Negara dengan penduduk yang banyak, alangkah ironisnya jika kita tidak bias mencari 11 pemain untuk membela timnas kita. Jadi harapan kami, smoga ke depan pemerintah kembali meningkatkan pembibitan atlit-atlit dan pemain sepakbola khususnya dengan anggaran yang memadai dan tentunya dengan fasilitas yang cukup. Maka ke depan Indonesia akan menjadi macan asia bahkan dunia dalam persepakbolaan tanpa meminta bantuan pemain asing.

Posted in Uncategorized | 3 Comments

Hello world!

Selamat datang di blog.ugm.ac.id. Ngebloglah dan curahkan pikiran anda disini. Silahkan menggunakan fasilitas ini dengan penuh tanggung jawab.

Admin blog akan melakukan peringatan apabila ada abusement/pelanggaran dalam penggunaan fasilitas ini.

selamat berkarya 🙂

Posted in Uncategorized | 7 Comments