MENAKAR KEMBALI KEBIJAKAN NATURALISASI

Oleh : PHISCA ADITYA ROSYADY

Awal Desember menjadi sejarah penting dalam dunia persepakbolaan Indonesia. Dalam 3 laga awal Piala AFF tahun 2010 ini, Indonesia menyapu bersih dengan nilai sempurna. Itu artinya Indonesia menang di dalam 3 pertandingan sekaligus. Bahkan dengan hasil yang tidak tanggung-tanggung lagi, dalam pertandingan perdananya, Indonesia membantai negeri jiran, Malaysia dengan skor 5-1. Kemudian di laga kedua, timnas merah putih kembali mengeluarkan tajinya dengan membungkam timnas Laos dengan skor 6-0.
Sedangkan di pertandingan ketiga, Indonesia menang tipis dengan Negara Gajah Putih dengan hasil 2-1, walaupun dalam pertandingan ini banyak pengamat sepakbola yang kurang puas dengan permainan tim Garuda Indonesia, karena 2 gol dihasilkan hanya lewat titik putih. Akan tetapi secara keseluruhan , banyak pengamat sepakbola yang mengatakan bahwa ini adalah awal kebangkitan timnas sepakbola Indonesia. Ada 2 faktor yang menyebabkan performa permainan tim nasional kita menunjukkan peningkatan dalam 3 pertandingan terakhir ini. Faktor yang pertama adalah factor dari luar. Faktor luar ini adalah tidak lain adalah dampak dari adannya kebijakan naturalisasi yang akhirnya dengan berbagai kontroversinya tetap dilaksanakan oleh pemerintah. Dua pemain hasil naturalisasi langsung diujicobakan untuk membela timnas dalam perhelatan AFF tahun 2010 ini. Dua pemain itu adalah Christian Gonzalez dan Irfan Bachdim. Gonzalez yang awalnya berkebangsaan Uruguay dan Irfan Bachdim yang awalnya berkebangsaan Belanda ini mampu memberikan angin segar bagi permainan tim merah putih. Selain itu, factor luar lainnya adalah factor dari para supporter yang sangat setia tidak henti-hentinya memberikan semangat kepada tim kebanggaan bangsa Indonesia ini. Hal ini bisa diamati dalam pertandingan perdana melawan musuh bebuyutan Malaysia, Stadion Gelora Bung Karno dipadati oleh lautan merah para supporter fanatic tim garuda Indonesia.Memang melawan Malaysia ini berbeda dengan musuh yang lainnya, Indonesia dan Malaysia sering berseteru baik masalah perbatasan negara, politik, ataupun ketenagakerjaan. Itulah yang menyebabkan iklim saat pertandingan menjadi berbeda dan bisa dikatakan lebih tegang. Akan tetapi dalam pertandingan kemarin dengan adannya supporter yang memadati stadion kebanggaan Indonesia itu, seakan kita, bangsa Indonesia justru sedang menghakimi para pemain Malaysia, dan akhirnya tim merah putih bisa membantai dengan skor 5-1, setelah membalikkan keadaan setelah awalnya Malaysia unggul 1-0. Jadi sudah jelas factor supporter sangat berpengaruh dalam kemenangan sebuah timnas karena dengan supporter itulah, timnas bisa bersemangat dan karena suporterlah kita bisa menjatuhkn mental lawan. Kemudian factor yang kedua adalah factor dari dalam, dalam hal ini jika kita lihat dari performa pemain timnas kita, memang menunjukkan kemajuan baik secara individu maupun secara kolektif. Hal ini disebabkan dengan latihan yang secara kontinu dipersiapkan untuk kompetisi AFF tahun ini. Selain itu semangat, motivasi, dan mental pemain juga sangat berpengaruh pada performa mereka di setiap pertandingan yang mereka hadapi.
Terlepas dari factor-faktor yang menyebabkan peningkatan performa dari permainan timnas kita, ada satu hal yang menarik untuk dibahas di balik kesuksesan timnas Indonesia ini. Hal menarik itu adalah kebijakan naturalisasi yang akhirnya diterapkan oleh pemerintah Indonesia dan akhirnya menghasilkan dua pemain “asing” yang mengawali debutnya bersama tim nasional dalam kompetisi AFF kali ini. Tentu dua pemain hasil naturalisasi ini sekarang menjadi sorotan banyak pihak. Sebelum kita membahas masalah ini lebih dalam lagi, terlebih dahulu ada sekilas profil kedua pemain hasil naturalisasi pada awal desember lalu. Christian Gonzales sejak sudah meminta agar kewarganegaraannya diubah, ia sangat ingin membela timnas Indonesia. Pada tanggal 1 November 2010, impiannya terkabul. Christian Gonzales atau akrab disapa El loco resmi menjadi Warga Negara Indonesia dan pada tanggal 21 november 2010 ia melakukan debut perdananya bersama timnas sepakbola Indonesia. Kini ia termasuk satu dari 22 pemain yang dipanggil pelatih Alfred Riedl untuk membela timnas Indonesia di ajang AFF Cup. Pada debutnya kali ini dia tidak menyia-nyiakan.Gol pertama El Loco di ajang resmi adalah ketika Indonesia melibas Malaysia pada ajang piala AFF 4 Desember silam. Pada pertandingan-pertandingan berikutnya, ia kerap menciptakan peluang bagi Indonesia. El Loco mengaku bahagia mengenakan jersey Merah-Putih. Ia ingin bermain membela Indonesia sampai umur 40 tahun. Sedangkan Irfan Bachdim, juga tak kalah tenar dibandingkan Gonzales.Lahir dengan nama Irfan Haarys Bachdim, lelaki kelahiran Amsterdam Belanda, tanggal 11 Agustus 1988 ini, resmi bermain membela Timnas PSSI pada tanggal 1 Desember 2010 yang baru lalu. Pada penampilan perdananya itu Irfan menyumbang satu gol saat Indonesia melindas Malaysia 5-1 di Gelora Bung Karno pada ajang AFF 2010.Di ajang AFF 2010, pelatih timnas senior Indonesia Alfred Riedl, menempatkan Irfan pada posisi penyerang.
Memang kita tidak dapat mengelak kalau dengan adanya pemain naturalisasi tersebut, timnas menjadi lebih garang. Seakan para pemain naturalisasi itu memberikan sebuah roh baru yang menyemangati permainan tim asuhan Alfred Riedl. Gonzales dan Irfan juga tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Alfred Riedl dan seluruh Bangsa Indonesia. Akan tetapi kebijakan naturalisasi ini tidaklah berjalan mulus dalam prosesnya. Sebenarnya sejak awal perencanaan sudah banyak pihak yang tidak setuju, dan sampai sekarang pun ada beberapa pihak yang tidak setuju dengan kebijakan naturalisasi ini. Akan tetapi juga tidak sedikit masyarakat Indonesia yang setuju dengan diterapkannya kebijakan naturalisasi bagi para pemain asing yang ingin membela timnas merah putih
Pihak yang setuju berpendapat dengan adanya kebijakan naturalisasi tersebut, diharapkan bisa memompa kekuatan tim nasional sepak bola kebanggaan kita ini. Hal ini bisa terjadi karena para pemain dari luar/ asing yang tentu lebih berpengalaman dibandingkan dengan para pemain lokal di timnas kita diharapkan bisa menularkan dan berbagi pengalaman maupun strategi kepada pemain-pemain lokal sehingga nantinya akan terbentuk sebuah tim yang kuat yang tidak kalah dengan timnas bangsa lain. Memang pernyataan ini telah terbukti dalam penampilan timnas kita setelah ada kebijakan naturalisasi dalam kompetisi AFF baru-baru ini. Di saat Christian Gonzales dan Irfan Bachdim ikut membela timnas kita dalam debutnya, seakan penampilan timnas kita mengalami peningkatan, baik secara individu ataupun secara tim. Selain itu peningkatan mental dan kepercayadirian pemain seakan menguat. Hal ini bisa kita amati pada saat pertandingan perdana di Piala AFF 2010 ini. Saat itu timnas Indonesia tertinggal 1-0 dari Malaysia. Akan tetapi tim kita tidak kendor semangatnya, tidak drop mentalnya, tapi justru gol itu menjadi sebuah lecutan penyemangat buat mereka. Permainan tetap berjalan dengan baik, bahkan timnas kita bisa membalikkan kedudukan dengan skor yang cukup telak, 5-1. Ini adalah indikasi bahwa tim kita adalah tim yang kuat dan bermental juara serta tidak mudah menyerah. Fenomena-fenomena semacam ini jarang kita temukan pada penampilan-penampilan timnas kita sebelumnya. Jadi memang benar jika dengan masuknya Christian Gonzales dan Irfan Bachdim dalam skuad timnas kita akan memberikan perubahan yang berarti bagi timnas merah putih untuk saat ini dan tentunya diharapkan untuk kedepannya juga. Selain itu dengan masuknya kedua pemain naturalisasi ini diharapkan akan menambah panasnya kompetisi di dalam sekuad merah putih untuk menjadi pemain utama.
Sebuah kebijakan dapat dipastikan ada yang setuju dan ada yang tidak setuju, itulah pro kontra yang terjadi. Disaat euphoria kemenangan timnas kita yang diindikasi merupakan berkat kebijakan naturalisasi yang diterapkan, ada pihak yang setuju dengan opini yang telah disampaiakan di atas, dan pastinya ada juga yang menyatakan sikapnya kalau tidak setuju dengan kebijakan naturalisasi yang di berlakukan di Negara Indonesia ini. Pihak yang tidak setuju beranggapan dengan diterapkannya kebijakan naturalisasi pada pemain-pemain sepakbola untuk dapat membela timnas ini, memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan. Dengan adanya naturalisasi dikhawatirkan akan menyingkirkan pemain-pemain lokal Indonesia untuk membela timnasnya sendiri. Hal ini dikarenakan jika naturalisasi terjadi dan sudah dihalalkan lagi untuk diterapkan maka iklim persaingan untuk menjadi pemain utama timnas kita akan semakin memanas. Siapa yang kuat, akan menang. Siapa yang memiliki performa pemainan bagus akan menjadi pemain utama dalam timnas. Itu artinya jika Indonesia melakukan naturalisasi secara tidak terkendali dan secara rutin, maka para pemain lokal kita akan tersingkir jika mereka tidak bisa berkompetisi. Padahal jika kita amati para pemain asing itu kebanyakan memiliki level yang lebih tinggi dibandingkan dengan para pemain lokal. Sehingga jelas naturalisasi yang berlebihan akan berdampak buruk pada eksistensi pemain lokal. Kita bisa belajar seperti pada bidang perdagangan dan perekonomian, semenjak diterapkannya system ekonomi pasar bebas di dunia, banyak sekali produk – produk yang berkualitas yang masuk ke Indonesia. Produk asing iniperlu diketahua sangatlah berkualitas dan bisa dikatakan jauh dari kualitas di Indonesia. Hal ini disebabkan karena di Negara-negara produsennya telah menerapkan teknologi yang canggih. Sehingga dihasilkan produk yang berkualitas tetapi tetap dengan harga yang relative lebih murah dibandingkan dengan produk Negara kita. Sehingga produk dalam negeri yang tidak mampu bersaing akan gulung tikar atau bangkrut. Fenomena ini bisa kita analogikan dengan fenomena naturalisasi yang sedang hangat-hangatnya saat ini. Jika para pemain lokal tidak bisa bersaing, maka mereka akan tersingkir dan terancam tidak bisa membela timnas sepakbola negarannya sendiri. Dan jika kita kaji lebih dalam lagi hal ini akan berakibat fatal terhadap perkembangan timnas kita.
Jika naturalisasi dilakukan secara berani, sebagai contoh Negara Filipina, mereka menaturalisasi 8 pemain sekaligus. Maka pemain lokal bisa jai justru tidak ada yang bermain membela timnas kebanggaan negaranya. Timnas justru diisi dengan pemain asing semua. Lalu apalagi kebanggaan kita terhadap timnas kita, mereka melenggang menang di beberapa kompetisi atau bahkan bisa mengikuti piala dunia sekaligus tetapi para pemain yang kita dukung adalah pemain asing semua. Para pemain yang kita dukung adalah bukan bangsa kita sendiri. Sungguh sangat ironi sekali jika kita mendukung mati-matian untuk para pemain asing. Walaupun mereka memang di dalam wadah timnas kita. Ini sangatlah penting untuk kita perhatikan agar kita tidak asal menerima keputusan yang secara semu memberikan keuntungan bagi kualitas timnas kita, tetapi kebijakan ini mungkin justru berakibat fatal bagi timnas untuk kedepannya. Jika kita mengamati fenomena-fenomena yang terjadi setelah kebijakan naturalisasi ini diterapkan di Indonesia, sebagai salah satu cntoh yang harus kita sikapi adalah euphoria kemenangan dan kebanggaan pada salah seorang pemain saja, dan yang lebih parah lagi, pemain itu adalah pemain hasil naturalisasi, bukan pemain lokal Indonesia. Mayoritas para para penggila bola di Indonesia sekarang sudah tidak asing lagi mengenal Christian Gonzales dan Irfan Bachdim. Bahkan mereka terkadang mengelu-elukan mereka secara berlebihan. Sebagai contoh bisa kita amati dalam jejaring social twitter, setelah Indonesia mendepak Malaysia, follower dari twitternya irfan Bachdim melonjak drastic. Selain itu di jejaring social facebook misalnya, setelah pertandingan itu mayoritas status adalah tentang sosok pemain Christian Gonzales dan Irfan Bachdim. Hal ini juga pernah terjadi dalam disaat pertandingan berlangsung di stadion dimana dilaksanakan pertandingan, di sana para penonton dan supporter berteriak yang intinya mengelu-elukan sosok Irfan Bachdim. Ini hanya beberapa fenomena –fenomena yang mungkin secara Nampak kita bisa mengamatinya. Fenomena-fenomena diatas jika kita amati ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya adalah hal ini wajar karena memang itu semua adalah bentuk dari penghargaan bagi para pemain naturalisasi ini karena telah member warna yang berbeda pada permainan timnas kita. Akan tetapi jika kita lihat dari sisi negatifnya,fenomena-fenomena kebanggaan terhadap para pemain hasil naturalisasi ini berdampak pada kecemburuan antar pemain. Pemain lokal Indonesia yang juga sudah berjuang keras sampai titik darah penghabisan membela timnas, justru tidak ada penghargaan yang diberikan dari masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia seakan larut dalam kekaguman pada sosok pemain hasil naturalisasi ini baik Christian Gonzales maupun Irfan Bachdim. Mereka sudah jarang atau bahkan memberi penghargaan pada para pemain lokal. Akhirnya jika kita sudah tidak kagum lagi pada para pemain lokal kita, maka ini akan berbahaya terhadap kebanggaan kepada timnas kita dan pada akhirnya akan berbahaya pada pemahaman nasionalisme yang tertanam pada diri setiap rakyat Indonesia. Memang ini sudah terlalu jauh berangan-angan kedepan, akan tetapi masalah nasionalisme bangsa adalah masalah yang sangat vital bagi suatu Negara yang ingin tetap mempertahankan eksistensinya. Maka alangkah baiknya jika kita bisa mengantisipasinya terlebih dahulu sebelum masalah yang besar melanda kita. Kembali kepada permasalahan pokok, jika kita terlalu berlebihan dalam kebanggaan kita pada pemain hasil naturalisasi maka memang secara tidak langsung kita menggerus nilai-nilai nasionalisme pada diri kita jika kita tidak bisa membentenginya. Dikhawatirkan kebanggaan kita itu berubah menjadi silau, artinya kita benar-benar hidup mati mendukung pemain naturalisasi yang ini sangat berbahaya pada rasa nasionalisme yang kita miliki.
Kemudian yang menjadi permasalahn lagi apakah para pemain hasil naturalisasi itu berjuang benar-benar demi kajayaan Garuda Indonesia? Memang kita tidak tahu secara pasti apa motivasi dan alasan para pemain asing itu mengajukan untuk dilakukan naturalisasi padanya agar mereka bisa membela timnas Indonesia. Apakah karena materi dan mencari popularitas? Apakah memang murni untuk Indonesia. Yang menjadi permasalahan adalah jika para pemain ini memiliki motivasi hanya untuk mencari popularitas atau materi belaka. Mereka mungkin saja memiliki anggapan bahwa Indonesia itu minim pemain yang berkualitas dan dengan masuknya dia, dia pasti akan selalu dimainkan di timnas. Pada akhirnya dia akan mendapatkan beberapak keuntungan dari kebijakan ini, seperti materi yang berupa gaji, kemudian popularitas yang pasti menjadi akibat dari itu semua. Jika seperti itu menunjukkan bahwa mereka berjuang itu bukan karena jiwa Indonesia-nya, bukan karena jiwa nasionalisme terhadap Negara barunya, tetapi hanya karena mencari keuntungan – keuntungan pribadi yang ingin dia dapatkan. Secara tidak langsung mungkin bisa dikatakan kalau timnas kita hanya sebagai klub-klub murahan yang bisa dimasuki para pemain yang belum tahu pasti sikap nasionalisme dia terhadap Indonesia yang seharusnya patut ia miliki disaat dia membela timnas Indonesia. Hal ini sungguh memalukan bangsa Indonesia, dan secara tidak langsung bias dikatakan kita menjual nilai luhur nasionalisme hanya untuk sebuah kemenangan timnas yang mungkin jauh nilainnya di bandingkan jiwa nasionalisme yang patut dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Untuk solusi kedepannya, diharapkan pemerintah berpikir berkali-kali bahkan seribu kali untuk kembali menerapkan kebijakan naturalisasi yang sudah diterapkan pertama kali pada akhir tahun 2010 ini. Kita masih punya para pemain yang berkualitas yang seharusnya justru focus kita sumber dayakan, kita latih dan kita hargai kerja keras mereka semua terhadap Negera Indonesia. Kita termasuk Negara dengan penduduk yang banyak, alangkah ironisnya jika kita tidak bias mencari 11 pemain untuk membela timnas kita. Jadi harapan kami, smoga ke depan pemerintah kembali meningkatkan pembibitan atlit-atlit dan pemain sepakbola khususnya dengan anggaran yang memadai dan tentunya dengan fasilitas yang cukup. Maka ke depan Indonesia akan menjadi macan asia bahkan dunia dalam persepakbolaan tanpa meminta bantuan pemain asing.

Oleh : PHISCA ADITYA ROSYADYAwal Desember menjadi sejarah penting dalam dunia persepakbolaan Indonesia. Dalam 3 laga awal Piala AFF tahun 2010 ini, Indonesia menyapu bersih dengan nilai sempurna. Itu artinya Indonesia menang di dalam 3 pertandingan sekaligus. Bahkan dengan hasil yang tidak tanggung-tanggung lagi, dalam pertandingan perdananya, Indonesia membantai negeri jiran, Malaysia dengan skor 5-1. Kemudian di laga kedua, timnas merah putih kembali mengeluarkan tajinya dengan membungkam timnas Laos dengan skor 6-0. Sedangkan di pertandingan ketiga, Indonesia menang tipis dengan Negara Gajah Putih dengan hasil 2-1, walaupun dalam pertandingan ini banyak pengamat sepakbola yang kurang puas dengan permainan tim Garuda Indonesia, karena 2 gol dihasilkan hanya lewat titik putih. Akan tetapi secara keseluruhan , banyak pengamat sepakbola yang mengatakan bahwa ini adalah awal kebangkitan timnas sepakbola Indonesia. Ada 2 faktor yang menyebabkan performa permainan tim nasional kita menunjukkan peningkatan dalam 3 pertandingan terakhir ini. Faktor yang pertama adalah factor dari luar. Faktor luar ini adalah tidak lain adalah dampak dari adannya kebijakan naturalisasi yang akhirnya dengan berbagai kontroversinya tetap dilaksanakan oleh pemerintah. Dua pemain hasil naturalisasi langsung diujicobakan untuk membela timnas dalam perhelatan AFF tahun 2010 ini. Dua pemain itu adalah Christian Gonzalez dan Irfan Bachdim. Gonzalez yang awalnya berkebangsaan Uruguay dan Irfan Bachdim yang awalnya berkebangsaan Belanda ini mampu memberikan angin segar bagi permainan tim merah putih. Selain itu, factor luar lainnya adalah factor dari para supporter yang sangat setia tidak henti-hentinya memberikan semangat kepada tim kebanggaan bangsa Indonesia ini. Hal ini bisa diamati dalam pertandingan perdana melawan musuh bebuyutan Malaysia, Stadion Gelora Bung Karno dipadati oleh lautan merah para supporter fanatic tim garuda Indonesia.Memang melawan Malaysia ini berbeda dengan musuh yang lainnya, Indonesia dan Malaysia sering berseteru baik masalah perbatasan negara, politik, ataupun ketenagakerjaan. Itulah yang menyebabkan iklim saat pertandingan menjadi berbeda dan bisa dikatakan lebih tegang. Akan tetapi dalam pertandingan kemarin dengan adannya supporter yang memadati stadion kebanggaan Indonesia itu, seakan kita, bangsa Indonesia justru sedang menghakimi para pemain Malaysia, dan akhirnya tim merah putih bisa membantai dengan skor 5-1, setelah membalikkan keadaan setelah awalnya Malaysia unggul 1-0. Jadi sudah jelas factor supporter sangat berpengaruh dalam kemenangan sebuah timnas karena dengan supporter itulah, timnas bisa bersemangat dan karena suporterlah kita bisa menjatuhkn mental lawan. Kemudian factor yang kedua adalah factor dari dalam, dalam hal ini jika kita lihat dari performa pemain timnas kita, memang menunjukkan kemajuan baik secara individu maupun secara kolektif. Hal ini disebabkan dengan latihan yang secara kontinu dipersiapkan untuk kompetisi AFF tahun ini. Selain itu semangat, motivasi, dan mental pemain juga sangat berpengaruh pada performa mereka di setiap pertandingan yang mereka hadapi.Terlepas dari factor-faktor yang menyebabkan peningkatan performa dari permainan timnas kita, ada satu hal yang menarik untuk dibahas di balik kesuksesan timnas Indonesia ini. Hal menarik itu adalah kebijakan naturalisasi yang akhirnya diterapkan oleh pemerintah Indonesia dan akhirnya menghasilkan dua pemain “asing” yang mengawali debutnya bersama tim nasional dalam kompetisi AFF kali ini. Tentu dua pemain hasil naturalisasi ini sekarang menjadi sorotan banyak pihak. Sebelum kita membahas masalah ini lebih dalam lagi, terlebih dahulu ada sekilas profil kedua pemain hasil naturalisasi pada awal desember lalu. Christian Gonzales sejak sudah meminta agar kewarganegaraannya diubah, ia sangat ingin membela timnas Indonesia. Pada tanggal 1 November 2010, impiannya terkabul. Christian Gonzales atau akrab disapa El loco resmi menjadi Warga Negara Indonesia dan pada tanggal 21 november 2010 ia melakukan debut perdananya bersama timnas sepakbola Indonesia. Kini ia termasuk satu dari 22 pemain yang dipanggil pelatih Alfred Riedl untuk membela timnas Indonesia di ajang AFF Cup. Pada debutnya kali ini dia tidak menyia-nyiakan.Gol pertama El Loco di ajang resmi adalah ketika Indonesia melibas Malaysia pada ajang piala AFF 4 Desember silam. Pada pertandingan-pertandingan berikutnya, ia kerap menciptakan peluang bagi Indonesia. El Loco mengaku bahagia mengenakan jersey Merah-Putih. Ia ingin bermain membela Indonesia sampai umur 40 tahun. Sedangkan Irfan Bachdim, juga tak kalah tenar dibandingkan Gonzales.Lahir dengan nama Irfan Haarys Bachdim, lelaki kelahiran Amsterdam Belanda, tanggal 11 Agustus 1988 ini, resmi bermain membela Timnas PSSI pada tanggal 1 Desember 2010 yang baru lalu. Pada penampilan perdananya itu Irfan menyumbang satu gol saat Indonesia melindas Malaysia 5-1 di Gelora Bung Karno pada ajang AFF 2010.Di ajang AFF 2010, pelatih timnas senior Indonesia Alfred Riedl, menempatkan Irfan pada posisi penyerang.Memang kita tidak dapat mengelak kalau dengan adanya pemain naturalisasi tersebut, timnas menjadi lebih garang. Seakan para pemain naturalisasi itu memberikan sebuah roh baru yang menyemangati permainan tim asuhan Alfred Riedl. Gonzales dan Irfan juga tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Alfred Riedl dan seluruh Bangsa Indonesia. Akan tetapi kebijakan naturalisasi ini tidaklah berjalan mulus dalam prosesnya. Sebenarnya sejak awal perencanaan sudah banyak pihak yang tidak setuju, dan sampai sekarang pun ada beberapa pihak yang tidak setuju dengan kebijakan naturalisasi ini. Akan tetapi juga tidak sedikit masyarakat Indonesia yang setuju dengan diterapkannya kebijakan naturalisasi bagi para pemain asing yang ingin membela timnas merah putihPihak yang setuju berpendapat dengan adanya kebijakan naturalisasi tersebut, diharapkan bisa memompa kekuatan tim nasional sepak bola kebanggaan kita ini. Hal ini bisa terjadi karena para pemain dari luar/ asing yang tentu lebih berpengalaman dibandingkan dengan para pemain lokal di timnas kita diharapkan bisa menularkan dan berbagi pengalaman maupun strategi kepada pemain-pemain lokal sehingga nantinya akan terbentuk sebuah tim yang kuat yang tidak kalah dengan timnas bangsa lain. Memang pernyataan ini telah terbukti dalam penampilan timnas kita setelah ada kebijakan naturalisasi dalam kompetisi AFF baru-baru ini. Di saat Christian Gonzales dan Irfan Bachdim ikut membela timnas kita dalam debutnya, seakan penampilan timnas kita mengalami peningkatan, baik secara individu ataupun secara tim. Selain itu peningkatan mental dan kepercayadirian pemain seakan menguat. Hal ini bisa kita amati pada saat pertandingan perdana di Piala AFF 2010 ini. Saat itu timnas Indonesia tertinggal 1-0 dari Malaysia. Akan tetapi tim kita tidak kendor semangatnya, tidak drop mentalnya, tapi justru gol itu menjadi sebuah lecutan penyemangat buat mereka. Permainan tetap berjalan dengan baik, bahkan timnas kita bisa membalikkan kedudukan dengan skor yang cukup telak, 5-1. Ini adalah indikasi bahwa tim kita adalah tim yang kuat dan bermental juara serta tidak mudah menyerah. Fenomena-fenomena semacam ini jarang kita temukan pada penampilan-penampilan timnas kita sebelumnya. Jadi memang benar jika dengan masuknya Christian Gonzales dan Irfan Bachdim dalam skuad timnas kita akan memberikan perubahan yang berarti bagi timnas merah putih untuk saat ini dan tentunya diharapkan untuk kedepannya juga. Selain itu dengan masuknya kedua pemain naturalisasi ini diharapkan akan menambah panasnya kompetisi di dalam sekuad merah putih untuk menjadi pemain utama.Sebuah kebijakan dapat dipastikan ada yang setuju dan ada yang tidak setuju, itulah pro kontra yang terjadi. Disaat euphoria kemenangan timnas kita yang diindikasi merupakan berkat kebijakan naturalisasi yang diterapkan, ada pihak yang setuju dengan opini yang telah disampaiakan di atas, dan pastinya ada juga yang menyatakan sikapnya kalau tidak setuju dengan kebijakan naturalisasi yang di berlakukan di Negara Indonesia ini. Pihak yang tidak setuju beranggapan dengan diterapkannya kebijakan naturalisasi pada pemain-pemain sepakbola untuk dapat membela timnas ini, memiliki beberapa kelemahan dan kekurangan. Dengan adanya naturalisasi dikhawatirkan akan menyingkirkan pemain-pemain lokal Indonesia untuk membela timnasnya sendiri. Hal ini dikarenakan jika naturalisasi terjadi dan sudah dihalalkan lagi untuk diterapkan maka iklim persaingan untuk menjadi pemain utama timnas kita akan semakin memanas. Siapa yang kuat, akan menang. Siapa yang memiliki performa pemainan bagus akan menjadi pemain utama dalam timnas. Itu artinya jika Indonesia melakukan naturalisasi secara tidak terkendali dan secara rutin, maka para pemain lokal kita akan tersingkir jika mereka tidak bisa berkompetisi. Padahal jika kita amati para pemain asing itu kebanyakan memiliki level yang lebih tinggi dibandingkan dengan para pemain lokal. Sehingga jelas naturalisasi yang berlebihan akan berdampak buruk pada eksistensi pemain lokal. Kita bisa belajar seperti pada bidang perdagangan dan perekonomian, semenjak diterapkannya system ekonomi pasar bebas di dunia, banyak sekali produk – produk yang berkualitas yang masuk ke Indonesia. Produk asing iniperlu diketahua sangatlah berkualitas dan bisa dikatakan jauh dari kualitas di Indonesia. Hal ini disebabkan karena di Negara-negara produsennya telah menerapkan teknologi yang canggih. Sehingga dihasilkan produk yang berkualitas tetapi tetap dengan harga yang relative lebih murah dibandingkan dengan produk Negara kita. Sehingga produk dalam negeri yang tidak mampu bersaing akan gulung tikar atau bangkrut. Fenomena ini bisa kita analogikan dengan fenomena naturalisasi yang sedang hangat-hangatnya saat ini. Jika para pemain lokal tidak bisa bersaing, maka mereka akan tersingkir dan terancam tidak bisa membela timnas sepakbola negarannya sendiri. Dan jika kita kaji lebih dalam lagi hal ini akan berakibat fatal terhadap perkembangan timnas kita.Jika naturalisasi dilakukan secara berani, sebagai contoh Negara Filipina, mereka menaturalisasi 8 pemain sekaligus. Maka pemain lokal bisa jai justru tidak ada yang bermain membela timnas kebanggaan negaranya. Timnas justru diisi dengan pemain asing semua. Lalu apalagi kebanggaan kita terhadap timnas kita, mereka melenggang menang di beberapa kompetisi atau bahkan bisa mengikuti piala dunia sekaligus tetapi para pemain yang kita dukung adalah pemain asing semua. Para pemain yang kita dukung adalah bukan bangsa kita sendiri. Sungguh sangat ironi sekali jika kita mendukung mati-matian untuk para pemain asing. Walaupun mereka memang di dalam wadah timnas kita. Ini sangatlah penting untuk kita perhatikan agar kita tidak asal menerima keputusan yang secara semu memberikan keuntungan bagi kualitas timnas kita, tetapi kebijakan ini mungkin justru berakibat fatal bagi timnas untuk kedepannya. Jika kita mengamati fenomena-fenomena yang terjadi setelah kebijakan naturalisasi ini diterapkan di Indonesia, sebagai salah satu cntoh yang harus kita sikapi adalah euphoria kemenangan dan kebanggaan pada salah seorang pemain saja, dan yang lebih parah lagi, pemain itu adalah pemain hasil naturalisasi, bukan pemain lokal Indonesia. Mayoritas para para penggila bola di Indonesia sekarang sudah tidak asing lagi mengenal Christian Gonzales dan Irfan Bachdim. Bahkan mereka terkadang mengelu-elukan mereka secara berlebihan. Sebagai contoh bisa kita amati dalam jejaring social twitter, setelah Indonesia mendepak Malaysia, follower dari twitternya irfan Bachdim melonjak drastic. Selain itu di jejaring social facebook misalnya, setelah pertandingan itu mayoritas status adalah tentang sosok pemain Christian Gonzales dan Irfan Bachdim. Hal ini juga pernah terjadi dalam disaat pertandingan berlangsung di stadion dimana dilaksanakan pertandingan, di sana para penonton dan supporter berteriak yang intinya mengelu-elukan sosok Irfan Bachdim. Ini hanya beberapa fenomena –fenomena yang mungkin secara Nampak kita bisa mengamatinya. Fenomena-fenomena diatas jika kita amati ada sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya adalah hal ini wajar karena memang itu semua adalah bentuk dari penghargaan bagi para pemain naturalisasi ini karena telah member warna yang berbeda pada permainan timnas kita. Akan tetapi jika kita lihat dari sisi negatifnya,fenomena-fenomena kebanggaan terhadap para pemain hasil naturalisasi ini berdampak pada kecemburuan antar pemain. Pemain lokal Indonesia yang juga sudah berjuang keras sampai titik darah penghabisan membela timnas, justru tidak ada penghargaan yang diberikan dari masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia seakan larut dalam kekaguman pada sosok pemain hasil naturalisasi ini baik Christian Gonzales maupun Irfan Bachdim. Mereka sudah jarang atau bahkan memberi penghargaan pada para pemain lokal. Akhirnya jika kita sudah tidak kagum lagi pada para pemain lokal kita, maka ini akan berbahaya terhadap kebanggaan kepada timnas kita dan pada akhirnya akan berbahaya pada pemahaman nasionalisme yang tertanam pada diri setiap rakyat Indonesia. Memang ini sudah terlalu jauh berangan-angan kedepan, akan tetapi masalah nasionalisme bangsa adalah masalah yang sangat vital bagi suatu Negara yang ingin tetap mempertahankan eksistensinya. Maka alangkah baiknya jika kita bisa mengantisipasinya terlebih dahulu sebelum masalah yang besar melanda kita. Kembali kepada permasalahan pokok, jika kita terlalu berlebihan dalam kebanggaan kita pada pemain hasil naturalisasi maka memang secara tidak langsung kita menggerus nilai-nilai nasionalisme pada diri kita jika kita tidak bisa membentenginya. Dikhawatirkan kebanggaan kita itu berubah menjadi silau, artinya kita benar-benar hidup mati mendukung pemain naturalisasi yang ini sangat berbahaya pada rasa nasionalisme yang kita miliki.Kemudian yang menjadi permasalahn lagi apakah para pemain hasil naturalisasi itu berjuang benar-benar demi kajayaan Garuda Indonesia? Memang kita tidak tahu secara pasti apa motivasi dan alasan para pemain asing itu mengajukan untuk dilakukan naturalisasi padanya agar mereka bisa membela timnas Indonesia. Apakah karena materi dan mencari popularitas? Apakah memang murni untuk Indonesia. Yang menjadi permasalahan adalah jika para pemain ini memiliki motivasi hanya untuk mencari popularitas atau materi belaka. Mereka mungkin saja memiliki anggapan bahwa Indonesia itu minim pemain yang berkualitas dan dengan masuknya dia, dia pasti akan selalu dimainkan di timnas. Pada akhirnya dia akan mendapatkan beberapak keuntungan dari kebijakan ini, seperti materi yang berupa gaji, kemudian popularitas yang pasti menjadi akibat dari itu semua. Jika seperti itu menunjukkan bahwa mereka berjuang itu bukan karena jiwa Indonesia-nya, bukan karena jiwa nasionalisme terhadap Negara barunya, tetapi hanya karena mencari keuntungan – keuntungan pribadi yang ingin dia dapatkan. Secara tidak langsung mungkin bisa dikatakan kalau timnas kita hanya sebagai klub-klub murahan yang bisa dimasuki para pemain yang belum tahu pasti sikap nasionalisme dia terhadap Indonesia yang seharusnya patut ia miliki disaat dia membela timnas Indonesia. Hal ini sungguh memalukan bangsa Indonesia, dan secara tidak langsung bias dikatakan kita menjual nilai luhur nasionalisme hanya untuk sebuah kemenangan timnas yang mungkin jauh nilainnya di bandingkan jiwa nasionalisme yang patut dimiliki oleh bangsa Indonesia.Untuk solusi kedepannya, diharapkan pemerintah berpikir berkali-kali bahkan seribu kali untuk kembali menerapkan kebijakan naturalisasi yang sudah diterapkan pertama kali pada akhir tahun 2010 ini. Kita masih punya para pemain yang berkualitas yang seharusnya justru focus kita sumber dayakan, kita latih dan kita hargai kerja keras mereka semua terhadap Negera Indonesia. Kita termasuk Negara dengan penduduk yang banyak, alangkah ironisnya jika kita tidak bias mencari 11 pemain untuk membela timnas kita. Jadi harapan kami, smoga ke depan pemerintah kembali meningkatkan pembibitan atlit-atlit dan pemain sepakbola khususnya dengan anggaran yang memadai dan tentunya dengan fasilitas yang cukup. Maka ke depan Indonesia akan menjadi macan asia bahkan dunia dalam persepakbolaan tanpa meminta bantuan pemain asing.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to MENAKAR KEMBALI KEBIJAKAN NATURALISASI

  1. Magnificent goods from you, man. .:: Phiscaditya MagzBlog ::. – MENAKAR KEMBALI KEBIJAKAN NATURALISASI I’ve understand your stuff previous to and you’re just extremely wonderful. I actually like what you have acquired here, certainly like what you are saying and the way in which you say it. You make it entertaining and you still care for to keep it sensible. I can’t wait to read far more from you. This is really a tremendous .:: Phiscaditya MagzBlog ::. – MENAKAR KEMBALI KEBIJAKAN NATURALISASI informations.

  2. dp-media says:

    Thank sob atas postingnya….

  3. Andréia says:

    thanks a lot for sharing this. heard about something like this for the first time.http://www.tekna.org

    [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ‘0 which is not a hashcash value.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *