Memoar Sri Sultan HB IX Muda : Plain Living, High Thinking

Idealisme terbungkam oleh Pragmatisme.

Sebuah pemantik awal yang memang pantas kita sematkan pada kondisi generasi muda Indonesia saat ini. Generasi muda saat ini seolah-olah mati aksi dan kontribusi terhadap bangsanya.  Entah karena tersibukkan oleh segala kegalauan asmaranya, tersibukkan oleh ambisi akademis, atau hanya sibuk dengan kepentingan-kepentingan pribadi yang terkungkung dalam “egoisme” pribadi atau kelompoknya semata. Hal inilah kemudian memunculkan pandangan dan sikap apatisme terhadap bangsanya sendiri. Idealisme yang dulu ditunjukkan para pemuda-pemuda founding father Maha Karya “Sumpah Pemuda” seolah semakin lama terkikis oleh pragmatisme kehidupan generasi muda saat ini yang hanya ingin enaknya sendiri.

Berangkat dari permasalahan itu sudah saatnya kita mencari sosok yang bisa menginspirasi dan men-trigger lagi semangat kita mengabdi kepada bangsa ini. Di tengah galaunya kondisi pemuda di negeri ini, ada seorang tokoh yang bisa menjadi teladan untuk kita semua. Beliau adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Raja Yogyakarta ini memiliki jiwa nasionalisme yang tidak diragukan lagi. Jiwa nasionalisme tersebut berimplikasi pada semangat dan kekuatan Beliau untuk terus membangun dan mengabdi untuk Negeri ini.

Dalam sosok Sri Sultan Hamengku Buwana terdapat beberapa karakter yang layak kita teladani. Konsep ” Plain Living, High Thinking” ala Sri Sultan Hamengku Buwaana IX sudah saatnya dipelajari, dihayati, dan dijalankan oleh generasi muda saat ini. Plain Living atau hidup sederhana pada pribadi Sri Sultan HB IX menjadi keteladanan tersendiri untuk kita semua. Kita pasti sudah mengetahui Sri Sultan HB IX merupakan tokoh Indonesia bahkan Dunia. Namun dengan segala kapasitas Beliau satu hal yang bisa kita ambil pelajaran adalah Beliau termasuk Tokoh Nasional bahkan Dunia yang sangat bersahaja. Seperti yang diceritakan oleh Frans Seda, sahabat beliau, ketika berada di luar negeri saat Almarhum (Sri Sultan HBIX) jalan-jalan mengelilingi hotel di musim dingin tanpa over coat. Sang Raja memakai lembaran koran untuk melapisi dadanya. Kemudian pasa saat sidang umum MPR 1978, menjelang terpilihnya menjadi Wakil Presiden, wartawan menyingkap bahwasannya beliau memakai karet untuk mengikat kaos kakinnya yang longgar. Sebuah makna mendalam tersirat dalam peristiwa ini. Sri Sultan HB IX dengan segala kekuasaan dan tahtanya beliau tidak mau hidup hedon seperti pemimpin pada umumnya saat ini. Hidupnya mengalir dalam kesahajaan tanpa alih-alih ingin dipuji dan sebagainya.

Kemudian pelajaran yang kedua adalah High Thinking, berpikir adiluhung. Dalam benak Sri Sultan HB IX selalu ada pemikiran-pemikiran luar biasa yang ini solutif untuk pemecahan masalah kebangsaan dan lain sebagainya. Hal ini menginisiasikan semangat kepahlawanan, nasionalisme, dan kebangsaannya selalu tersirat dalam setiap tindakan Beliau. Kerangka berpikir yang luas berwawasan dan adiluhung ini teriringi dalam kesahajaan budi beliau. Seperti dalam ilmu padi, semakin tinggi keilmuan seseorang, maka ia semakin menunduk. Pemikiran beliau yang mungkin bisa kita ambil hikmah adalah dikala kondisi Indonesia sedang genting pada saat kembalinya Belanda dengan kedok NICA membonceng kehadiran sekutu di Jakarta, Beliau mengundang Soekarno dan Hatta sebagai presiden dan wakil dikala itu, untuk memindahkan Ibu kota ke Yogyakarta. Ini merupakan taktik dan solusi yang luar biasa disaat eksistensi negeri ini yang terkoyak. Memang harus dilakukan dan hal ini terbukti tepat untuk tetap menjaga kedaulatan negara kita. Inilah penggambaran sosok Sang Raja yang patut kita teladani untuk menjadi pionir dan problem solver dalam permasalahan bangsa saat ini.

Namun  kondisi generasi muda saat ini justru berkebalikan dengan sosok Sri Sultan HB IX ini, generasi muda bukan lagi ” Hidup Sederhana, Berpikir Adiluhung”. Akan tetapi justru ” Hidup Mewah, Berpikir Sederhana”. Inilah yang mulai saat ini harus mulai diubah. Bangsa ini tidak terus-menerus tergilakan dan terninabobokkan oleh manisnya sejarah. Namun bangsa ini membutuhkan generasi dimasanya sendiri (masa sekarang) untuk terus mengabdi dan berkontribusi secara nyata. Akhirnya, kami mengajak kepada pribadi sendiri dan seluruh kaum muda di Indonesia, mari kita lebih peduli lagi terhadap carut-marut bangsa ini. Peduli dengan sikap dan tindakan sesuai dengan bidang kita. Peduli yang membuat kita beraksi bukan hanya diam. Beraksi untuk bersama-sama membangun negeri ini, Negeri Indonesia, sesuai yang dicita-citakan para pendahulu kita.

Phisca Aditya Rosyady – Mahasiswa Ilmu Komputer dan Elektronika UGM

* Artikel ini diikutsertakan dalam Kontes Blog UGM 2012

referensi : www.kerajaannusantara.com

This entry was posted in Lomba Blog. Bookmark the permalink.