Dilematisasi Bayi Tabung

Memiliki momongan merupakan anugerah yang memang sangat luar biasa. Bisa melanjutkan eksistensi kehidupan seseorang melalui keturunan mereka. Namun tak sedikit juga manusia yang tidak bisa menyempurnakan kehidupan mereka dengan tidak bisa mendapatkan keturunan. Dengan alasan itu, kemudian manusia berpikir keras agar tetap bisa menghadirkan bayi mungil di  Bayi tabung adalah salah satu teknik pembuahan in vitro (in vitro fertilisation), yaitu suatu teknik pembuahan dimana sel telur (ovum) dibuahi di luar tubuh perempuan. Hmm, bagaimana bisa? Jadi begini, prosesnya diawali dengan pengambilan sel telur seorang perempuan, kemudian sel telur tadi akan dibuahi oleh sel sperma seorang laki-laki yang telah dipersiapkan sebelumnya, seperti yang dikatakan sebelumnya, proses pembuahan ini terjadi diluar tubuh manusia. Kemudian hasil dari pembuahan tadi akan “dipelihara” beberapa lama sampai terbentuk embrio (bakal janin), dan kemudian si-embrio tadi akan ditransfer kembali ke dalam rahim perempuan tersebut. Seterusnya, embrio tadi akan berkembang dalanm rahim sang perempuan sebagaimana perempuan hamil normal lainnya.

Untuk menghindari penyalahgunaan teknik bayi tabung ini, maka sudah sepatutnya pemerintah mengeluarkan undang-undang mengenai bayi tabung ini. Di indonesia sendiri ada beberapa aturan perundang-undangan yang mengatur mengenai bayi tabung ini. Pasal  127 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2009 misalnya, dalam pasal ini diatur tentang upaya kehamilan yang dilakukan di luar cara alamiah, yakni hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami isteri yang sah dengan ketentuan sebagai berikut:

a.  Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami isteri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim isteri dari mana ovum berasal;

b.  Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu;

c.  Pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu

Namun dalam islam masih ada dilematisasi yang berkembang.Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya menyatakan bahwa bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami-istri yang sah hukumnya mubah (boleh). Sebab, ini termasuk ikhtiar yang berdasarkan kaidah-kaidah agama.

Namun, para ulama melarang penggunaan teknologi bayi tabung dari pasangan suami-istri yang dititipkan di rahim perempuan lain. “Itu hukumnya haram,” papar MUI dalam fatwanya. Apa pasal? Para ulama menegaskan, di kemudian hari hal itu akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitannya dengan warisan.
Para ulama MUI dalam fatwanya juga memutuskan, bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia hukumnya haram.

referensi :http://www.republika.co.id

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *